* *  CINTAILAH BULELENG DENGAN MENGENALNYA  * *

 

 

 

1     

 

 

HASIL KERAJINAN DESA BERATAN

PAMEREMAN PANJI TAHUN 1921

TESTAMEN PURI KANGINAN

Sebuah kotak "pecanangan" 

perak berukir hasil karya I Kaler.

Cenderamata Buleleng untuk 

Ratu Wilhelmina di Belanda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 KERAJAAN BULELENG 1700-1950

( I - II - III - IV - V - VI - VII - VIII - IX- X - XI -XII  )

   

HASIL KERAJINAN DESA BERATAN - BULELENG.

Desa Beratan Buleleng telah lama dikenal dengan hasil kerajinan emas dan peraknya. Mereka kebanyakan berasal dari keluarga Pande. Selain kerajina emas dan perak, juga dikenal dengan hasil tenun kain songket yang mempunyai corak khas.

Hasil kerajinan dari Beratan dalam bentuk alat-alat upacara saat ini masih tetap digemari oleh masyarakat. Juga hasil kerajinan sebagai perhiasan dan cendramata tetap digemari para pelancong atau wisatawan dari jaman dahulu sampai sekarang

Beberapa hasil kerajinan dari Beratan ini ada tersimpan dimuseum kerajaan di negeri Belanda. Selain cendramata dari Buleleng, hasil kerajinan dari pelbagai wilayah nusantara juga tersimpan disana. Itu terjadi tahun 1923 ketika ada pernikahan di keluarga raja Belanda.

 

I Kaler pengerajin perak dari desa Beratan - Buleleng 1923

 

 

Keluarga I Kaler didesa Beratan 1923

 

 

IKATAN KELUARGA.

Gagasan yang patut dipuji pernah disepakati dan dilaksanakan oleh pihak Puri Buleleng (Puri Kanginan- Bangkang-Tukadmungga) dengan pihak Puri Anyar Sukasada. Gagasan itu adalah untuk memperbaiki atap ":pemereman" leluhur di Pamerajan Panji. Atap yang asalnya ilalang (alang-alang) akan diganti dengan seng. Disepakati bahwa untuk beaya akan ditanggung bersama-sama, yaitu sama-sama separo.

Tetapi dalam waktu itu  pihak Puri Buleleng mendapat halangan dengan wafatnya punggawa I Gusti Bagus Surya. Dengan demikian pihak Puri Buleleng tidak bisa ikut ambil bagian dalam kegiatan itu. Namun tetap disepakati untuk membeayai bersama.

Setelah I Gusti Bagus Surya selesai di pelebon, kedua pihak berebug kembali untuk membicarakan pembeayaan tersebut. Pihak Puri Anyar Sukasada mengatakan tidak perlu lagi beaya dari puri Buleleng, karena bangunan sudah selesai dan semua beaya sudah dibayarkan.

 

Photo "Pamereman" Leluhur Pura Kawitan di desa Panji, tahun 1921

 

 

Testamen Puri Kanginan.

Para Panglingsir atau para tokoh Puri Buleleng, seperti I Gusti Putu Geria, I Gusti Nyoman Raka dan I Gusti Ketut Jlantik, semuanya sudah wafat dan sudah selesai di  dipelebon. Yang masih hidup adalah para janda yang semuanya sudah berusia tua atau wreda.

I Gusti Putu Geria meninggalkan janda I Gusti Ayu Kompyang Ayu dengan putra-putri.

I Gusti Nyom. Raka meninggalkan janda I Gusti Ayu Nyoman Ayu dengan putra-putri..

I Gusti Kt. Jlantik meninggalkan janda I Gusti Ayu Made Geria dengan putra-putrinya.

Sedangkan keluarga yang lain yang juga berasal dari Puri Kanginan seperti I Gusti Made Singaraja beserta adiknya I Gusti Ketut Putu sudah menetap di Puri Cakranegara Lombok.

Melihat situasi dan kondisi Puri Kanginan sedemikian rupa, maka I Gusti Putu Jlantik, putra I Gusti Putu Geria yang kala itu menjadi anggota Lid van Kerta  mengambil kebijaksanaan untuk membuat Surat Testamen yang nama aslinya tertulis dengan nama

"Surat Taterangan". Surat itu sebagai pegangan untuk mereka yang mempunyai kewajiban atas puri tersebut. Dilengkapi dengan gambar denah dan aturan dalam keluarga bersangkutan. Selanjutnya  ke tiga janda membubuhkan cap jempol mereka masing-masing di atas surat tersebut.

 

Untuk mengesahkan Surat Testamen dibubuhi tanda tangan oleh: 1.  Lid Raad Kerta: I Gusti Putu Jlantik;  2. Sedahan Agung:  Ida Bagus Gelgel; 3. Punggawa Distrik Buleleng: I Gusti Bagus Surya dan 4. Lid Raad Kerta: Ida Pedanda Putu Geria

 

 

 

 

WARISAN  I

WARISAN  II

WARISAN III

WARISAN  IV

WARISAN  V

 

WARISAN  VI

WARISAN  VII

WARISAN  VIII

WARISAN  IX

WARISAN X