* *  CINTAILAH BULELENG DENGAN MENGENALNYA  * *

 

 

 

1     

Setelah I Gusti Ketut Jelantik diasingkan ke Padang - Bengkulu pada tahun 1872, pemerintah kolonial Belanda beberapa kali menunda pengangkatan raja  Buleleng berikutnya. 

Patih I Gusti Bagus Jlantik sudah 

dicalonkan raja, tetapi Belanda tidak mengangkatnya, bahkan menerapkan "direct rule" atau pemerintahan langsung dibawah  asistent resident membawahi residen Banyuwangi. Kondisi ini berlangsung  sampai 57 tahun lamanya. 

Walaupun demikian, suksesi  dinasti  Ki Gusti Anglurah Panji Sakti terus berlanjut seperti sediakala.

 

KEBIJAKAN BARU

PEMERINTAH BELANDA.

Perkembangan baru terjadi dalam pemerintahan Belanda pada tahun 1900 dimana Ratu Belanda Wilhelmina memerintahkan untuk menerapkan politik yang lebih halus dalarn pemerintahan di Hindia Beianda yaitu pemerintahan dengan pendekatan Etika (etische politiek). Perobahan ini terjadi karena pergolakan pihak parlemen di negeri Belanda sendiri atas tata cara penerapan pemerintahan di Hindia Belanda yang menindas dan kurang mengerti masalah budaya lokal (Bali).

Dengan kebijakan yang baru ini, kemudian para pejabat di Buleleng Iebih bisa menerapkan tradisi lokal sesuai dengan kebudayaan yang bersumber pada tradisi atau adat yang ada di masyarakat.

Baca:

Riwayat I Gusti Ketut Jlantik.

 

 

 

 

PARIWISATA

Upacara adat dengan budayanya di Bali, seperti pengabenan atau pelebon sejak dahulu sudah merupakan daya tarik tersendiri bagi "pelancong" luar negeri, yang  sekarang disebut "wisman".

Buleleng dengan prasarana pelabuhannya yang terus dibenahi dengan Singaraja sebagai ibukota Bali - Lombok menjadi pelabuhan wisata terkemuka.

Seorang bangsa Amerika bernama Andre Roosevelt bersama Jacob Minas membentuk biro perjalanan yang disebut " Toeristen Bureau" atau  "Travel Operator" pertama di Singaraja (dan Bali) di sekitar tahun 1925.

baca: Pariwisata Buleleng

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 KERAJAAN BULELENG 1700-1950

( I - II - III - IV - V - VI - VII - VIII - IX- X )

 

SUKSESI PUNGGAWA BULELENG.

I Gusti Putu Geria yang dicalonkan sebagai raja Buleleng, namun di tugaskan ke Lombok, jabatan Punggawa Buleleng beralih kepada adik beliau yaitu I Gusti Nyoman Raka yang sebelumnya menjabat punggawa Sukasada. Selain sebagai punggawa Buleleng juga menjabat Kanca pada kantor Raad van Kerta. Nasib tragis menimpa beliau. Pada tahun 1898 beliau terkena ledakan mesiu di kantor yang mengakibatkan beliau wafat karena luka bakar.

I Gusti Nyoman Raka

I Gusti Ketut Jlantik adik I Gusti Nyoman Raka (Dewata Geseng), diangkat sebagai Punggawa Buleleng. Pada waktu itu pemerintah kolonial Belanda dalam menjalankan politik pemerintahannya di Hindia Belanda makin lunak dan pembangunan sarana umum di Buleleng meningkat.

 

I Gusti Ketut Jlantik

I Gusti Ketut Jiantik yang waktu itu kebetulan sebagai punggawa Buleleng memanfaatkan situasi yang lebih kondusif iyu untuk membangun kota Singaraja. Beliau mulai 1900 membuat jalan baru dari Banyumala terus sampai di Kalibukbuk dengan melibatkan seluruh perbekel serta masyarakat. Jalan itu panjangnya sekitar 10 kilometer dari kota Singaraja ke arah Barat. Jalan itu disebut Margi Anyar atau Rurung Anyar. Nama ini diberikan untuk membedakan dengan jalan yang sudah lebih dulu ada yaitu jalan desa dari desa Bangkang, Pemaron, Tukadmungga, Anturan dan Kalibukbuk yang dinamai Marga Purwa atau Rurung Buwuk. (Lebih jauh riwayat I Gusti Ketut Jlantik - klik di sini.).

Hasil karya beliau baik yang di kota sampai ke desa-desa  cukup banyak yang sekarang masih kita bisa lihat. 

I Gusti Ketut Jlantik menjabat punggawa Buleleng cukup lama, sejak 1898 - 1915 sehingga diberikan julukan Ratu Punggawa Lingsir. Beliau wafat karena sakit pada tanggal 14 Mei 1916 dalam umur 62 tahun.

Yang cukup mengherankan, sehari kemudian, pada tanggal 15 Mei 1916, I Gusti Putu Geria, saudara tua beliau wafat. Kedua kakak beradik seperti telah berjanji agar jenazah bersama-sama bertemu dalam satu Acara Pelebon.

 

Acara Pelebon (Pengabenan)

di Puri Kanginan - Singaraja

 

Upacara Pelebon diselenggarakan 24 Agustus 1917 berpusat di Puri Kanginan. Dua Wadah yang besar berjumlah dua buah, diletakkan di alun-alun, di areal Gedung Sasana Budaya - Gedong Kertya sekarang.

 

Pengganti sebagai punggawa Buleleng selanjutnya adalah I Gusti Bagus Surya, putra I Gusti Nyoman Raka, dewata geseng. Sebelumnya, I Gusti Bagus Surya menjabat  punggawa di distrik Tejakula. 

I Gusti Bagus Surya

 

I Gusti Bagus Surya  wafat tahun 23 September 1921 dan pelebon dilaksanakan pada 4 Agustus 1924. Acara pelebon di Puri Kanginan diselenggarakan oleh "pengajeng karya" I Gusti Putu Jlantik. Acara pelebon saat itu adalah yang sangat megah dan meriah. Para turis berdatangan dengan beberapa kapal KPM sampai kapal Angkayan Laut Belanda berlabuh di pelabuhan Buleleng.

 

 

I Gusti Putu Jlantik ( putra I Gusti Putu Geria yang pernah jadi Patih di Cakranegara Lombok) 1900 menjabat juru tulis di Raad van Kerta, kemudian menjadi "punggawa keliling" sejak 1903, sering bertugas di Klungkung. Tugasnya adalah membuat laporan keadaan di seluruh wilayah di Bali kepada asisten residen di Singaraja. Beliau sangat menekuni sastra dan fasih berbahasa Belanda, makanya beliau  menjadi penerjemah untuk para pejabat Belanda. Pada sekitar tahun 1918 beliau memangku jabatan punggawa distrik Sukasada - Buleleng.

I Gusti Putu Jlantik

 

Selama menjabat sebagai punggawa di distrik Sukasada banyak pengalaman pahit dan manis sempat dialami oleh I Gusti Putu Jalntik. Hal itu membuat I Gusti Putu Jlantik makin matang dan bijaksana, bisa memilih diantara baik dan buruk.

Anekdot: Pada waktu itu di wilayah Sukasada dan sekitarnya sering terjadi pencurian, bahkan sering ada perampokan. Polisi jaman Belanda sempat dibuat pusing. Banyak orang tahu, perbuatan tercela itu dilakukan oleh I Jablah, perampok kawakan yang sangat ditakuti penduduk. Ppada suatu hari I Jablah dipanggil oleh I Gusti Putu Jlantik, punggawa yang baru, supaya segera menghadap di kantor beliau.

I Jablah datang tapi hanya mau berhadapan dengan Ratu Punggawa saja sendirian tanpa ada orang lain. Mereka berdua berjam-jam dalam satu ruangan. Orang-orang pada khawatir akan keselamatan Ratu Punggawa. Bisa-bisa beliau jadi korban penganiayaan. Setelah beberapa hari kemudian tiba-tiba saja I Jablah sudah menjadi opas polisi distrik Sukasada yang langsung dibawah Ratu punggawa I Gusti Putu Jlantik sebagai atasannya. Setelah itu wilayah Sukasada dan sekitanya aman tenteram tidak ada yang berani mencuri apalagi merampok. Penjahat mana berani menghadapi I Jablah?  

 

 I Gusti Putu Jlantik beberapa tahun kemudian menjadi anggota Lid van Kerta, dengan menyerahkan jabatan Punggawa Sukasada kepada I Gusti Bagus Cakratanaya dari Puri Sukasada.

 

 

 

 

WARISAN  I

WARISAN  II

WARISAN III

WARISAN  IV

WARISAN  V

 

WARISAN  VI

WARISAN  VII

WARISAN  VIII

WARISAN  IX

WARISAN X