* *  CINTAILAH BULELENG DENGAN MENGENALNYA  * *

 

 

 

1     

 

Setelah I Gusti Ketut Jelantik diasingkan ke Padang - Bengkulu pada tahun 1872, pemerintah kolonial Belanda beberapa kali menunda pengangkatan raja  Buleleng berikutnya. 

Patih I Gusti Bagus Jlantik sudah terpilih sebagai calon raja, tetapi Belanda tidak mengangkatnya, bahkan menerapkan "direct rule" atau pemerintahan langsung dibawah  asistent resident membawahi residen Banyuwangi. Kondisi ini berlangsung  sampai 57 tahun lamanya. 

Walaupun demikian, suksesi  dinasti  Ki Gusti Anglurah Panji Sakti terus berlanjut seperti sediakala.

 

 

 

 

 

Diceritakan bahwa I Gusti Putu Geria mengambil isteri anaknya Pan Gumiarti dari Banjar Baturancang desa Tukadmungga yang diberi pungkusan Jero Wanasari. Setetah lahir putra pertama yaitu I Gusti Putu Jlantik tahun 1880, I Gusti Putu Gria diberi jabatan pertama oleh I Gusti Patih sebagai punggawa Tukadmungga.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 KERAJAAN BULELENG 1700-1950

( I - II - III - IV - V - VI - VII - VIII - IX- X )

 

MUNCUL SEORANG KING MAKER.  

Dengan diturunkannya I Gusti Ngurah Ketut Jlantik dari takhta kerajaan, maka pemerintahan Belanda harus berpikir lebih cermat untuk mencari calon raja di Buleleng.

I Gusti Bagus Jlantik, punggawa Penarukan, putra I Gusti Putu Batan, hanya diangkat  sebagai Patih kerajaan Buleleng, menggantikan I Ketut Liarta yang telah meninggal dunia. I Gusti Bagus Jlantik masih merangkap sebagai Punggawa Penarukan.

Sedianya, I Gusti Bagus Jlantik sebagai calon regent secara suksesi, tetapi karena ada gejolak di masyarakat pengangkatannya ditangguhkan. Tetapi beliau diberikan kekuasaan penuh sebagai penguasa lokal dibawah Asisten Residen L. de Scheemaker. Dalam menjalankan tugas beliau dibantu oleh Pedanda Nyoman Mas sebagai anggota Raad Kerta beserta I Ketut Anjaran dari Banjar Peguyangan.

Tugas berat ada di pundak beliau. Selain mengurusi pemerintahan beliau juga harus menjaga dan memelihara dua puri yaitu Puri Kanginan dan Puri Gde. Tanah pekarangan Puri Kanginan dan Puri Gde keadaanya cukup memprihatinkan karena terbengkalai. Beberapa bagian pekarangan puri ada yang telah beralih pemilik atau diambil orang lain.

Beliau mengangkat putranya sendiri I Gusti Putu Intaran dari puri Tukadmungga sebagai Wakil Patih untuk membantu pekerjaan beliau. Namun sayang I Gusti Putu Intaran terkena sakit yang tak tersembuhkan dan akhirnya meninggal dalam usia yang masih muda. I Gusti Putu Intaran meninggalkan seorang isteri dan beberapa putra. 

I Gusti Bagus Jlantik Patih mempunyai adik bernama I Gusti Ketut Banjar tinggal di Puri Tukadmungga yang menjabat sedahan. I Gusti Ketut Banjar juga mendahului wafat dan almarhum meninggalkan seorang janda bernama Ni Gusti Kompyang Keramas berasal dari Banjar Penataran Singaraja. Beliau memiliki beberapa putra dan putri. Diantaranya yang laki-laki disebut, 1 Gusti Putu Geria, I Gusti Nyoman Raka dan 1 Gusti Ketut Jlantik. I Gusti Bagus Jlantik Patih kemudian mengambil iparnya yang menjanda itu sebagai isteri dan bersama-sama ikut tinggal di Puri Kanginan. 

 

Di sisi lain, pemerintah Belanda mendapat desakan dari pihak masyarakat agar segera mengangkat penguasa lokal atau raja. Tuntutan itu datang dari I Gusti Bagus Bebed putra dari mantan raja Buleleng I Gusti Made Rai dari puri Sukasada. Bahkan untuk mempengaruhi rakyat dan pemerintah Belanda mereka mengerahkan pendukungnya berdemonstrasi di sepanjang jalan di daerah Pabean. Mereka juga minta agar Patih diberhentikan atau tidak diberikan kekuasaan besar.

 

Asisten-Residen diapit oleh Pendeta dan Patih Buleleng

dengan para pembantu

 

PURI KANGINAN HENDAK DISERBU

Dari hangatnya politik yang didorong oleh ketidak puasan selama ini akhirnya hampir menyulut sebuah peristiwa keributan. Yaitu pada tahun 1876 ketika asisstent resident dijabat oleh F.C. Valck. Pada hari itu semua anggota keluarga Puri Kanginan pergi bersembanhyang pada hari piodalan di Pamerajan Tukadmungga. Di Puri Kanginan hanya ada I Gusti Bagus Jlantik Patih dengan isterinya Gusti Biang Kompyang Keramas. Waktu itu masih pagi. Datanglanglah orang berduyun-duyun membawa senjata tajam seperti tombak, keris, golok dan semacamnya dari arah desa Sukasada dikepalai oleh I Gusti Bebed.  Sampai di Banjar Liligundi mereka dicegat oleh Tuan van der Tuuk seorang Belanda. Kemudian datang juga assistent resident F.C. Valck. Setelah ditanya mereka menerangkan akan menghancurkan Puri Kanginan dan membunuh I Gusti Bagus Djlantik Patih dan semua orangnya.

Assistant resident memerintahkan dengan tegas agar mereka kembali saja pulang. Para perusuh itupun pada akhirnya menurut dan kembali pulang ke rumahnya rnasing-masing.

I Gusti Bagus Jlantik Patih yang berada di dalam puri tidak tahu kalau ada bahaya di luar yang  mengancam jiwanya. Untung ada parekan I Gusti Ketut Liran dari Banjar Penataran dan I Kanten dari desa Pakisan memberi tahukan peristiwa itu. I Gusti Bagus Jlantik segera keluar menghunus keris ke perempatan jalan menunggu kedatangan tamu yang bersenjata itu. Isteri beliau Gusti Kompyang Keramas sangat cemas. Lalu seketika itu juga seorang panjeroan bernama I Klebit disuruh segera ke Puri Tukadmungga melalui Puri Bangkang membawa berita kepada semua keluarga perihal tersebut. Seketika itu berdatangan pemuda-pemuda dari Puri Tukadmungga dan Bangkang masuk ke Puri Kanginan mencari perusuh itu. Tetapi kedapatan Puri sedang kosong. I Gusti Bagus Jlantik Patih sedang dipanggil ke kantor asisten residen untuk dimintai keterangan mengenai peristiwa tadi. Para pemuda lalu menjemput I Gusti Bagus Jlantik ke kantor asisten residen dan menghantar beliau kembali ke Puri Kanginan.  Berselang beberapa hari kemudian ditangkaplah beberapa orang diantaranya Pan Gumiasih yang dianggap sebagai biang keladi kerusuhan itu lalu di hukum buang ke Banyuwangi dan meninggal disana.

I Gusti Bagus Jlantik Patih sempat dipanggil ke Banyuwangi oleh tuan Residen untuk merundingkan hal yang sangat penting perihal pemerintahan. Waktu itu Buleleng di bawah ke-residenan Banyuwangi. Tetapi apa hasil rundingan itu tidak ada yang tahu kecuali Gusti Patih. Tidak lama kemudian I Gusti Made Rai dari puri Sukasada yang pernah duduk sebagai raja juga dipanggil ke kantor Residen di Banyuwangi. Setelah itu dibebaskan pulang ke Puri Sukasada.

Akhirnya baru disadari dan diakui oleh masyarakat luas bahwa I Gusti Bagus Jlantik mempunyai pengaruh sangat besar dalam pemerintahan waktu itu yang juga dipercaya oleh Pemerintah untuk diberi kekuasaan sebagai penguasa lokal. Hanya belum diangkat sebagai raja karena beberapa pertimbangan. Kiranya hal itu dimaklumi juga oleh keluarga Puri Anyar Sukasada.

Berselang beberapa waktu kemudian setelah kejadian yang genting telah lewat, suatu pagi datanglah seseorang bernama I Riama dari desa Bantangbanua yang langsung saja menghadap Patih I Gusti Bagus Jlantik di Puri Kanginan untuk membawa pesan dari I 

Gusti Made Rai. Maksudnya supaya tidak lagi saling membenci satu sama lain, antara Puri Anyar Sukasada dengan Puri Bangkang dan Puri Kanginan dan bersama-sama menjaga perdamaian dan kerukunan.

Kepada I Riama diberikan jawaban oleh I Gusti Patih, bahwa pikiran itu sebenarnya sudah ada dari dahulu dalam keluarga Puri Kanginan Bangkang / Tukadmungga, dan sekarang ini tentu dengan sangat tulus menerima perdamaian tersehut.

Entah dari mana asalnya, kemudian muncul gagasan untuk membuat sebuah perjanjian antara mereka itu supaya bisa dibuktikan secara nyata dan bisa dilihat oleh masyarakat umum. Untuk membuktikan keinginan yang baik itu I Gusti Made Rai menghaturkan seorang putrinya bernama I Gusti Ayu Putu Rai ke Puri Kanginan dihantar oleh banyak kerabat dari Puri Anyar sebagai bukti ketulusan hati untuk berdamai dengan I Gusti Bagus Jlantik Patih, serta semua keluarga Puri Kanginan / Bangkang / Tukadmungga. Agar I Gusti Ayu Putu diambil sebagai isteri oleh I Gusti Bagus Jlantik Patih. Berhubung I Gusti Bagus Jlantik sudah tua, lalu I Gusti Ayu Putu dikawinkan dengan I Gusti Putu Geria.

Walaupun sudah sedemikian keadaannya, rupanya kedua belah pihak  masih belum puas. Dirasakan masih saja ada perasaan yang mengganjal. Kawatir kalau-kalau kelak kembali terjadi perselisihan. Oleh karena itu digagas untuk mewujudkan satu persumpahan dengan upacara Dewa Saksi di Pura Desa Baleagung untuk berjanji masing-masing kehadapan Ida Hyang Widhiwasa.

ISI DEWA SAKSI:

"BARANG SIAPA  DIANTARA KITA MENDAHOELOEI BERMAKSUD ATAU BERNIAT TJOERANG, DENGKI DAN LAIN SEBAGAINJA, DENGAN SENGADJA HENDAK MEMBOEAT DAN MENIMBOELKAN PERMOESOEHAN DIANTARA KELOEARGA POERI KANGINAN- BANGKANG -TOEKADMUNGGA TERHADAP POERI SOEKASADA DAN SEBALIKNYA POERI SOEKASADA TERHADAP POERI KANGINAN-BANGKANG- TOEKADMUNGGA . . .  SEMOGA ATAS NAMA TOEHAN JANG  MAHA KOEASA MEREKA TERSEBOET TIDAK AKAN MENEMOEI KESEDJAHTERAAN DAN KEBAHAGIAAN  POEN KESELAMATAN DALAM HIDOEPNYA SAMPAI KEPADA ANAK TOEROENANNYA".

Demikian is sumpah Dewa Saksi yang disahkan di Pura Desa Bale Agung dengan disaksikan oleh asisten residen Mr. F.C. Valck pada tahun 1876.

 

Mereka yang hadir dalam Persumpahan itu: 

Pihak PuriKanginan-Bangkang-Tukadmungga:

  1.  I Gusti Bagus Jlantik Patih - Puri Kanginan

  2.  I Gusti Putu Intaran - Puri Tukadmungga

  3.  I Gusti Bagus Rai - Puri Tukadmungga

  4.  I Gusti Putu Geria - Puri Kanginan

  5.  I Gusti Nyoman Raka -- Puri Kanginan

  6.  I Gusti Ketut Jlantik -- Puri Kanginan

  7.  I Gusti Made Singaraja - Puri Kanginan

  8.  I Gusti Made Oka - PuriTukadmungga

  9.  I Gusti Made Selat - Puri Bangkang

10. I Gusti Nyoman Jlantik - Puri Bangkang

11. 1 Gusti Ketut Putra - Puri Bangkang

12. I Gusti Putu Gde -- Puri Bangakang

13. I Gusti Made Jlantik - Puri Bangkang

14. I Gusti Putu Intaran - Puri Bangkang

15. I Gusti Made Celagi - Puri Bangkang

16. I Gusti Nyoman Jlantik - Puri Bangkang

17. I Gusti Made Panji -- Puri Bangkang

18. I Gusti Nyoman Jlantik -- Puri Bangkang

19. I Gusti Ketut Banjar - Puri Bangkang

20. I Gusti Pt. Panji Tanjik - Puri Bangkang

 

Dari Pihak Puri Sukasada:

  1.  I Gusti Made Rai, beserta putra-putra:

  2.  I Gusti Bagus Rai

  3.  I Gusti Made Ksatra

  4.  I Gusti Bagus Dalang

  5.  I Gusti Nyoman Karang,

  6.  I Gusti Ketut Rai

  7.  I Gusti Nyoman Jlantik

  8.  I Gusti Made Jlantik,

  9.  I Gusti Nyoman Penarungan, adik no. l 

  10.  I Gusti Made Agung, sepupu no. l 

 

 

 

 

 

WARISAN  I

WARISAN  II

WARISAN III

WARISAN  IV

WARISAN  V

 

WARISAN  VI

WARISAN  VII

WARISAN  VIII

WARISAN  IX

WARISAN X