* *  CINTAILAH BULELENG DENGAN MENGENALNYA  * *

 

 

 

1     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 KERAJAAN BULELENG 1700-1950

( I - II - III - IV - V - VI - VII - VIII - IX- X )

 

 

PEMERINTAH BELANDA MENCARI DUKUNGAN.

Dengan peristiwa pemberontakan I Nyoman Gempol pemerintah kolonial Belanda tentu saja menemukan kesulitan dalam menjalankan pemerintahannya kalau tidak didukung oleh pemerintah lokal. Untuk mengatasi situasi itu maka pemerintah kolonial Belanda di bawah pimpinan asisten residen P. L. van Bloemenwaanders berusaha membentuk pemerintah lokal yang definitif. Beliau menpersilahkan tokoh dan keturunan raja Buleleng  untuk mengadakan musyawarah. Disamping itu juga mendengarkan pendapat masyarakat umum. Akan tetapi siapakah atau yang manakah sentana raja Buleleng itu? Suasana panas dingin mulai timbul diantara keiuarga di seluruh pelosok Buleleng ini yang merasa terkait dengan keturunan raja di Buleleng.

PESAMUAN AGUNG.

Sebuah pertemuan dinasti I Gusti Ngurah Panji sakti yang semestinya dipimpin oleh I Gusti Made Batan tetapi beliau sudah mendahului wafat. Pertemuan diselenggarakan oleh I Gusti Putu Batan Singaraja (Sedahan Agung) di Puri Kanginan. Setelah melalui berbagai hambatan dan tantangan dari berbagai pihak, akhirnya berhasil mempertemukan para semeton yang bisa mewakili "seluruh" keluarga besar:

Para panglingsir atau pamucuk yang hadir adalah:

     # 1. 1 Gusti Putu Kari (Kebon) puri Kubutambahan beserta putra: 1 Gusti Ketut Jlantik

     #2. 1 Gusti Ketut Jlantik Prasi Puri Bangkang, beserta putranya l Gusti Wayan Jlantik

     #3. I Gusti Putu Batan Singaraja sendiri bersama adik-adik: 1 Gusti  Bagus Jlantik dan I Gusti Ketut Banjar, semua dari Puri Tukadmungga.

Juga ikut hadir para panglingsir dan semeton lainnya untuk berkumpul di Puri Kanginan, tidak lain membicarakan masalah pembentukan  pemerinatahan lokal mendampingi penerintah Belanda.

 

SISTEM SENIORITAS ATAU DEMOKRASI / MUSYAWARAH.

Sesuai dengan aturan dresta, l Gusti Putu Batan Singaraja adalah putra tertua I Gusti Made Batan, dipandang dari sistem adat atau dresta sudah selayaknya beliau duduk sebagai putra mahkota dan pamucuk dalam pemerintahan. Namun beliau menolak jabatan itu, karena sudah cukup tua dan sibuk di Pura Desa.

Maka secara mufakat diangkatlah 1 Gusti Putu Kari (Kebon) sebagai raja Buleleng. Beliau berkantor di Puri Kanginan. Beliau ini dipilih sesuai kehendak masyarakat umum. Beliau masih terkait kekeluargaan dengan baik puri Sukasada, maupun keluarga puri Buleleng, Bangkang dan Tukadmungga. Beliau menerima kedudukan sebagai regent, tetapi tak lama kemudian  beliau menunjuk putranya yaitu I Gusti Ketut Jlantik yang bisa mewakili dari generasi muda. I Gusti Putu Kari kemudian disebut Anak Agung Aji.

Bertempat di Puri Kanginan, pada tanggal 20 Desember 1860 I Gusti Ngurah Ketut Jlantik bersama-sama para punggawa mengangkat sumpah jabatan dan beliau dinobatkan dan oleh Asisten Residen atas nama Residen Banyuwangi Nieuwenhuyzen dengan pangkat "regent" atau raja. Tetapi kekuasaan raja masih tetap dibawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda dibawah Asisten Residen di Buleleng.

Untuk lebih mempererat hubungan antar kekerabatan dalam keluarga, A. A. Ngurah Ketut Jlantik mengambil isteri dari Puri Kanginan / Tukadmungga tidak lain adik I Gusti Putu Batan Singaraja, yang bernama I Gusti Ayu Panji dengan gelar A. A. istri Parameswari. Seorang lagi putri 1 Gusti Bagus Jlantik Batupulu bernama I Gusti Ayu Mas dengan gelar A. A. lstri Mahadewi. Sayang dari kedua istri beliau ini tidak mendapatkan putra. Selain itu ada dua istri yang lain, yaitu seorang asal dari Kubutambahan dengan pungkusan Jero Dauh mendapatkan seorang putri bernama I Gusti Ayu Kompiang.

Selanjutnya pemerintah Belanda mengangkat I Ketut Liarta dari Banjar Dangin Peken sebagai Patih Buleleng yang bertugas membantu Raja. Kemudian anaknya Patih I Ketut Liarta yang bernama Ni Wayan Liarti diperisteri oleh Raja A. A. Ngurah Ketut Jlantik dan diberi pungkusan Jero Trena. Sayang Jero Trena tidak mendapatkan anak.

Kurang lebih satu tahun I Gusti Ngurah Ketut Jlantik berkantor di Puri Kanginan, beliau pindah ke Puri Gde.

Jabatan Sedahan yang dipegang I Gusti Putu Batan yang beristeri dari desa Selat Sukasada diganti oleh I Wayan Mudiasta (Pan Suma) dari Banjar Tegal. Karena dianggap kurang cakap, tidak lama kemudian diganti oleh 1 Gusti Made Tauman dari Banjar Liligundi. Adik I Gusti Putu Batan, yaitu 1 Gusti Bagus Jlantik tetap menjadi punggawa di Penarukan.

 

I Gusti Ngurah Ketut Jlantik, Anak Agung Buleleng, masih muda usianya sebagai raja dalam situasi politik sangat pelik. Beliau masih memerlukan panduan sang ayah. Namun ayah beliau I Gusti Putu Kari wafat tahun 1865 di puri Kubutambahan. Jenazah beliau 

diangkut ke Singaraja dan dipelebon di Puri Gde diselenggarakan oleh keluarga besar puri Kanginan, Bangkang / Tukadmungga.

 

PERANG BANJAR 1868.

Walaupun pemerintah Belanda sudah menjalankan divide er empera dengan memecah wilayah kerajaan Buleleng menjadi tiga bagian tetapi rupanya di wilayah Buleleng di bagian Barat yang berpusat di desa Banjar masih menyimpan sekam membara di bawah pennukaannya. Waktu itu yang menjabat assistant resident di Buleleng adalah L.de Scheemaker.

Keputusan Raja / pemerintah Belanda dalam masalah mengangkat seorang punggawa di Banjar menimbulkan masalah. Punggawa yang baru ini, Ida Ketut Anom tidak mendapat persetujuan dari sebagian rakyat. Keputusan Raja waktu itu tidak lain adalah atas rekomendasi pemerintah kolonial Belanda. Terjadilah pemberontakan rakyat Banjar yang dikepalai oleh Ida Made Rai seorang punggawa yang teiah disingkirkan raja atas nama pemerintah Belanda. Pernasalahan makin membesar sehingga pihak pemerintah Hindia Belanda perlu mengirim pasukan militer ke Buleleng pada bulan September 1868. Tetapi pasukan Belanda dibawah komando W.E.F Heemskerk mendapat perlawanan sengit dari rakyat Banjar sehingga mengalarni kegagalan. Banyak korban dalam peperangan tersebut. Dengan cara ultimatum yang berubi-tubi ditujukan kepada rakyat agar menyerahkan Ida Made Rai maka akhirnya Ida Made Rai dtangkap di desa Den Kayu. Ida Made Rai akhirnya kembali lagi menjalani hukuman buang ke daerah Priangan.

 

ANAK AGUNG NGURAH KETUT JLANTIK DI HUKUM BUANG.

Setelah perang Banjar selesai pemerintah kolonial Belanda tetap kukuh mencengkeram di Buleleng. Entah bagaimana perrnasalahan sebenarnya, hanya pemerintah Belanda yang tahu. Raja Buleleng A. A. Ngurah Ketut Jlantik dianggap membahayakan pemerintah yang berkuasa waktu itu. Beliau mendapat tuduhan memupuk keuntungan pribadi yang sangat besar dari cukai candu dan dengan demikian dituduh menyalah gunakan wewenang. Beliau tercatat sebagai seorang raja yang kaya raya. Maka beliau diperiksa oleh jaksa yang didatangkan dari Banyuwangi. Pada tahun 1872 A A Ngurah Ketut Jlantik diturunkan dari takhta raja Buleleng. Beliau dibawa keatas kapal, yang membawa beliau ke Surabaya,  kemudian diadili di Buitenzorg (Bogor) yang akhirnya diekstradisi ke Bengkulu, Padang, Sumatera Utara. Diantara empat istri beliau, hanya seorang yang ikut, yaitu Jero Trena. 

Semenjak itu pemerintah kolonial Belanda merasa perlu untuk menunda pengangkatan raja untuk Buleleng dalam waktu yang tidak ditentukan karena harus mencari tokoh

yang bisa lebih di terima oleh Belanda sendiri dan juga oleh kalangan rakyat.

Ternyata Belanda terlalu berhati-hati sampai menunda selama 57 tahun lamanya. Selama itu pemerintahan Buleleng tidak dipimpin oleh raja, melainkan  pemerintahan langsung (direct rule) oleh asisten residen dibawah residen Banyuwangi. Walau pun demikian, budaya di masyarakat Buleleng masih tetap berjalan sebagai sediakala. Tokoh lokal masih ada yang duduk dilembaga pemerintahan walaupun di bawah Belanda. Namun banyak calon pemimpin lokal merasa tertekan sampai ada yang meninggalkan Buleleng.

 

 

 

 

 

WARISAN  I

WARISAN  II

WARISAN III

WARISAN  IV

WARISAN  V

 

WARISAN  VI

WARISAN  VII

WARISAN  VIII

WARISAN  IX

WARISAN X