* *  CINTAILAH BULELENG DENGAN MENGENALNYA  * *

 

 

 

1     

Kekayaan  kerajaan  didapat dari upeti atau pajak dari petani,, perdagangan candu dan penjualan manusia (budak).

 

Raja Beliling atau Buleleng,

I Gusti Gde Karang beserta isteri.

 

Kerajaan Inggris di negeri Malaka jaman itu sedang mengembangkan kekuasaannya yang dikendalikan oleh Sir John Stamford Raffles sewaktu menjabat sebagai letnan gubernur di Jawa sangat tertarik kepada budaya Jawa. Tahun 1811 sempat melihat Bali yang akhirnya jatuh cinta pada alam dan budaya Bali. Bahkan terdengar bahwa pihaknya  ingin menguasai pulau Bali dan rencananya akan membangun kota pelabuhan dengan nama Singapura di Buleleng ini.  Raja Buleleng waktu itu I Gusti Gde Karang tertarik dan mulai dengan pembangunan sarana pelabuhan. Disamping itu beliau mulai membuka areal puri baru yang lebih besar, namun tidak sampai selesai, karena timbul beberapa masalah di walayah kerajaan Buleleng.

Pihak Raffles minta agar penjualan budak dihentikan sama sekali. I Gusti Gde Karang menolaknya dengan tegas. Untuk menekan raja, tahun 1814 Raffles memerintahkan angkatan laut Inggris dibawah pimpinan Jendral Nightangale datang ke Buleleng dengan beberapa kapal perang, namun tidak terjadi pertempuran. Pihak Belanda sudah lebih dahulu melakukan ekspansinya di Indonesia dan pihak Inggris tidak ingin mendapat masalah dengan Belanda. Ikut campurnya pihak asing menjadikan penghasilan Raja Buleleng I Gusti Gde Karang turun drastis. Gagasan Raffles untuk membangun kota Singapura di Buleleng kandas. 

 

 

PELEBON BESAR SETELAH MUSIBAH.

Dengan wafatnya raja I Gusti Gde Karang, dalam situasi yang penuh keperihatinan para sentana I Gusti Nglurah Panji menyempatkan waktu untuk bersama menyelenggarakan upacara pelebon I Gusti Bagus Jlantik Batupulu bersama-sama mereka yang meninggal karena bencana banjir lumpur di Bangkang. Upacara diselenggarakan di desa Tukadmungga dipimpin oleh I Gusti Bagus Jlantik Kalianget.  

 

 

 

 

 

 KERAJAAN BULELENG 1700-1950

( I - II - III IV - V - VI - VII - VIII - IX- X )

RAJA ANGKARA MURKA

Dengan wafatnya I Gusti Gde Karang, Raja Buleleng II pada tahun 1818, langsung tahun  itu juga diganti oleh putra kandungnya yang bernama I Gusti Karang Paang Canang. Tidak disebutkan apakah berliau disebut sebagai Raja Buleleng III.

Selanjutnya diceritakan, bahwa baru dinobatkan I Gusti Karang Paang  sudah menerima kejayaan dari ayahandanya, I Gusti Gde Karang almarhum. Beliau melanjutkan pembangunan puri baru di sebelah barat jalan (…ri kulwaningnu ). Perihal Puri ini ini bisa dibaca dihalaman tersendiri (klik: Puri Singaraja). Puri yang dibangun oleh I Gusti Karang Paang ini sebenarnya, seperti telah diceritakan terdahulu dirancang oleh ayahandanya I Gusti Gde Karang almarhum. Ternyata raja I Gusti Paang Canang mempunyai perilaku kurang wajar, yaitu jatuh cinta pada saudara perempuannya bernama I Gusti Ayu Kamarukan (Gabrug) dan dijadikan isteri. Ini yang disebut gamia-gamana, musuh peradaban manusia.

 

KEKEJAMAN RAJA I GUSTI PAANG CANANG.

Seorang keturunan I Gusti Ngurah Panji Sakti bernama I Gusti Bagus Ksatra secara baik-baik menghaturkan ikan udang. Dasar I Gusti Karang Paang yang kurang waras, lkata udang diartikan "nyuudang" atau memberhentikan sebagai raja. I Gusti Bagus Ksatra yang bermaksud baik itu langsung dibunuh. Rakyatpun mulai memberontak. Pada suatu malarn ada tontonan wayang kulit di halarnan puri, dalangnya I Guliang dari desa Banjar. Kesempatan ini dipakai rakyat untuk memberontak dan membunuh raja. Pasukan bersenjatapun sudah siap. Tetapi raja sampai jauh rnalarn tidak keluar nonton wayang. Orang banyak rnulai ribut. Tiba-tiba kain kelir wayang ditusuk sampai berlobang. Jero Dalang Guliang dari Banjar itu terkejut luar biasa. Jero Dalang yang tangannya masih memegang wayang Bhimasena dan Tualen lari dengan kaki pincang karena di jari kakinya masih terselip "ketokan". Banyak orang yang terluka pada malam naas itu.

Keluarga dari Sangket dan Buleleng bergabung lalu menyerbu bersamaan ke dalam puri, tetapi puri sedang kosong dan gelap gulita. Hanya ada seorang parekan bernarna I Ketut Karang dari Penataran yang mernberitahukan, bahwa raja tidak ada di puri entah kemana. Akhirnya orang banyak itu pun pulang kerumah rnasing-masing.

Besok paginya I Gusti Karang Paang sudah duduk di balairung mengadakan pertemuan dengan para punggawa. Perintah raja adalah agar keturunan Panji Sakti, semuanya tanpa kecuali, tua muda, besar kecil supaya semuanya dibunuh. Maka kalang kabutlah para sentana I Gusti Anglurah Panji Sakti. Mereka yang di Sangket lari ke desa Kapal Mengwi, yang di Bangkang lari menyelamatkan diri ke desa Soka Tabanan. Mereka yang di Kubutambahan mengungsi ke desa Pakisan. Ada juga yang lari ke Lombok. Ada juga yang menyelamatkan diri di keluarga muslim yang kemudian beralih kepercayaan dengan memeluk agama Islam.

Keadaan wilayah Buleleng makin tak menentu. Musim tidak cocok lagi. Hasil pertanian seperti hasil sawah rusak dan tanaman di tegal tidak berhasil. Penyakit wabah merajalela banyak khewan piaraan yang mati. Ini karena ulah "gamya-gamana" sang raja I Gusti Karang Paang.

 

BERAKHIRNYA SI  RAJA LALIM.

Rakyat sekali lagi berontak dengan kekuatan dan tekad yang lebih besar. Mereka menyerbu puri Gde. Namun Raja sudah lebih dulu waspada. Beliau sudah dalam perjalanan kembali ke Karangasem. Di dalam perjalanan mereka sempat berhenti di Kubutambahan selama beberapa hari. Beliau disembunyikan dan dilindungi oleh pejabat kerajaan di Kubutambahan dari kejaran rakyat. Konon seorang selir raja yang hamil tua yang ikut dalam perjalanan melahirkan seorang anak laki-laki di Kubutambahan. 

 

I GUSTI KARANG PAANG DIBUNUH.

Sesampai I Gusti Karang Paang di Puri Karangasem langsung beliau menuju Balai Rum di Puri Ageng. Orang-orang di Karangasem sudah mengetahui kelakuan raja yang cacat moral itu. Raja Karangasem menjatuhkan hukuman mati kepada I Gusti Karang Paang dan hal ini sudah mendapat persetujuan dari Sesuhunan Bali di Kelungkung. Raja Karangasem I Gusti Ngurah Lanang tidak lain adalah pamannya dan sekaligus musuhnya melakukan sendiri eksekusi terhadap I Gusti Karang Paang. Tetapi tidak mudah karena I Gusti Karang Pahang ilmunya tinggi dan kebal senjata. Rupanya ilmunya ada di ikat pinggangnya. Maka sewaktu beliau sedang bersantap dan ikat pinggangnya dilepas, dikala itu beliau kepalanya dipenggal dan ditombak beberapa kali dari muka dan belakang sehingga darahnya muncrat mengenai dinding, pintu dan langit-langit Balai Rum itu. Itu terjadi pada tahun 1823. Konon darah itu membekas sampai sekarang. Seorang Belanda Dr. Medhurst menceritakan kekejaman eksekusi itu secara mendetil ditulis di harian Singapore Chronical June 1830.

 

Sementara itu keluarga besar prati sentana 1 Gusti Ngurah Panji Sakti sempat menyelenggarakan upacara pelebon secara sederhana untuk mereka yang menjadi korban kejaliman raja I Gusti Karang Paang. Antara lain I Gusti Bagus Ksatra, I Gusti Bagus Jlantik Kalianget dan semua jenazah Jenazah seluruhnya dipelebon di Tukadmungga pada tahun 1823.

Semenjak itulah, keturunan I Gusti Ngurah Panji Sakti yang dulu cerai berai berada di desa Soka Tabanan, di Pakisan dan desa lainnya, kembali ketempat asalnya masing-masing beserta rakyat pengiringnya. Mereka yang dulu mengungsi ke desa Soka Tabanan kembali ke desa Bangkang seperti I Gusti Nyoman Pandji, I Gusti Ketut Djlantik Prasi. Sedangkan I Gusti Bagus Djlantik Batupulu beserta adiknya I Gusti Made Batan tidak kembali ke Bangkang, melainkan membangun puri di desa Tukadmungga meneruskan rencana ayahnya I Gusti Bagus Jlantik Kalianget dan tinggal menetap disana, kemudian membangun merajan sendiri.

 

Mereka yang mengungsi ke desa Kapal Mengwi di antaranya ada yang terus ke Lombok dan menetap disana. Dan I Gusti Putu Kari (Kebon) berserta keluarga lainnya  yang dahulu mengungsi ke desa Pakisan kembali ke Kubutambahan.Keluarga yang sudah mengalih ke agama Islam tinggal di Kampung Kajanan Singaraja.

 

Dalam kurun waktu beberapa tahun setelah itu singgasana di istana kerajaan Buleleng sempat lengang. Sepupu almarhum I Gusti Karang Paang yang bernama I Gusti Made Oka Suri pernah duduk sebagai raja Buleleng, tetapi tidak bertahan lama karena suasana sudah mulai terasa hangat di Buleleng yang makin kurang suka pada keluarga raja asal Karangasem. Tambahan lagi situasi di Bali mulai digoyang oleh masuknya kekuatan dari luar seperti bangsa Inggris dan juga bangsa Belanda sudah mulai berusaha mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Bali, demikian juga dengan Buleleng. Bahkan kerajaan lain di Bali seperti Badung dan lainnya sudah menanda-tangani perjanjian dengan Belanda. Bahkan Raja Bali I Dewa Agung Kelungkung juga sudah dipengaruhi Belanda. Menghadapi keadaan seperti ini Buleleng sangat memerlukan sosok pemimpin atau raja untuk mengisi kekosongan pimpinan di Buleleng waktu itu.

 

 

 

WARISAN  I

WARISAN  II

WARISAN III

WARISAN  IV

WARISAN  V

 

WARISAN  VI

WARISAN  VII

WARISAN  VIII

WARISAN  IX

WARISAN X