

| Lovina dan Sejarahnya |
Tahun 1949 tanah air kita, Indonesia, mulai terbebas dari kehadiran penguasa kolonial Belanda. Anak Agung Panji Tisna pernah berpesan kepada para generasi muda, bahwa di jaman kemerdekaan ini agar generasi muda belajar mandiri, bila perlu menjadi wiraswasta. Beliau memberi contoh konkrit. Setelah beliau membangun gedong bioskop “Maya Theater”, beliau mendirikan perguruan “Bhaktyasa”, kemudian perpustakaan UAB (Udyana-Adnyana-Buana). Disamping itu A. A. Panji Tisna sangat mencintai pertanian dan beliau membangun perkebunan jeruk di areal perbukitan desa Seraya - Buleleng. Hasil buah jeruknya waktu itu sangat bersaing dengan jeruk Tejakula / Bondalem. Tahun 1953 beliau (A.A.Panji Tisna) mulai membangun tempat istirahat di tepi pantai berlokasi di pantai Kampung Baru, desa Tukad Cebol (sekarang desa Kaliasem). Selain dibangun restoran juga dibangun 3 kamar tamu. A.A. Md. Udayana (dr.A.A.Md Udayana almarhum) dan A. A. Ngurah Sentanu yang sedang remaja ikut membantu proses pembangunan tersebut. A.A. Panji Tisna berpesan agar jangan ada orang berburu dilokasi itu. Sebuah papan dipasang dengan tulisan: "Biarlah tupai dan burung hidup bebas". A.A. Md. Udayana berangkat ke Belanda untuk melanjutkan sekolahnya disana. Sedangkan A.A. Ngurah Sentanu melanjutkan aktif meladeni tamu pengunjung di restoran Lovina, yang ramai pada hari Minggu dan hari Raya. Waktu itu, selain pelajar dan umum, pengunjung banyak dari kalangan birokrat, kepala kantor / instansi, dokter, kepala bank. Waktu itu Singaraja adalah ibu kota provinsi Nusa Kecil / Nusa Tenggara. Tahun 1959, A A Panji Tisna sering memberikan wejangan.Beliau berkata, bahwa peristirahatan Lovina ini lebih cocok dikelola oleh orang muda. Kemudian beliau menganjurkan agar A. A. Ngurah Sentanu melanjutkan usaha Lovina itu. Untuk itu dibuatkan surat akta jual beli dihadapan Punggawa Banjar. Sejak itu A.A. Ngurah Sentanu mulai belajar berwiraswasta sekaligus menjadi pelayan restoran Lovina, dengan mengajak kakak perempuannya A. A. Istri Bintang sebagai tukang masak. Namun setahun kemudian (1960), ibu kota provinsi Nusa Kecil yang selama ini adalah Singaraja, di pindah ke Denpasar. Perobahan itu menjadikan Singaraja hanya sebagai kota kabupaten yang makin lama makin sepi. Nasib Lovina mendapat tantangan. Berangsur-angsur Lovina tidak bertahan secara bisnis. Akhirnya "Lovina" terbengkalai, bangunan banyak mengalami kerusakan. Dalam majalah Reader’s Digest terbitan 1970an, ada tulisan mengenai Lovina yang dahulu pada tahun 1959 pernah di kunjungi penulisnya. Ditulisan itu disebutkan Lovina sebagai tempat wisata pantai yang masih perawan di Bali. Ini adalah merupakan tonggak yang banyak orang tidak mengetahui, mengapa nama Lovina bisa meloncat dikenal dunia. Sedangkan waktu itu usaha pariwisata di Indonesia belum dikenal secara umum. Setelah presiden Soekarno membangun Bali Beach Hotel di Sanur (mulai dibangun pada tahun 1963), barulah usaha pariwisata mulai dikenal. Tahun 1970. Bandara Ngurah Rai dibuka untuk penerbangan internasional. Sejak itu Bali kedatangan banyak turis. Di Buleleng para turis langsung mencari “Lovina” yang nyatanya belum siap. Segera A A Panji Tisna membangun hotel Tasik Madu tahun (1971) yang letaknya kurang lebih 100 meter di sebelah barat "Lovina". Selanjutnya, Anak Agung Ngurah Agung membangun "Manggala Homestay" secara bertahap. Sedangkan A. A. Ngurah Sentanu sebagai pemilik "Lovina" yang bangunannya banyak mengalami kerusakan, sangat kekurangan modal dan merasa “ewuh pakewuh” untuk bersaing dengan keluarga sendiri. |
| Perlu dicatat, bahwa sejak tahun 1980 Buleleng mulai "booming".Tempat tujuan yang dikenal wisatawan waktu itu terutama adalah "Lovina" dan "Ayodia" selain "Air Sanih" Note: Teman-teman pengusaha juga mulai membangun hotel dan restoran. Di pantai Kubu Gembong (pantai Anturan), ada "Simon /Yuda Cottages", "Mandara Homestay", "Agung Homestay", "Lila Cita", "Jati Reef" di pantai Tukadmungga (sekarang Pantai Hepi). Sedangkan putra almarhum A.A. Panji Tisna, A.A Made Jelantik merintis di sebelah barat pantai Tanjung Alam dengan membangun "Krisna" Homestay. |
| Setelah menyatakan dukungannya dalam pengembangan pariwisata, Bapak Gubernur Prof. Ida Bagus Mantra berpesan agar nama “LOVINA’ jangan dikembangkan, karena nama itu tidak berasal dari ucapan bahasa Bali, tegasnya. Pakai saja nama lain yang sesuai, seperti Pantai Tasik Madu, bukankah nama itu cukup bagus, juga ciptaan A.A.Panji Tisna. Tidak perlu pakai "Lovina". Demikian Prof. Ida Bagus Mantera menegaskan. |
| Note: Perlu dicatat Dinas Pariwisata di Buleleng waktu itu belum ada. A. A. Ngurah Sentanu sebagai ketua PHRI Sub-Komda Buleleng bersama teman-teman anggotanya secara kompak, dengan pelbagai cara mempromosikan pariwisata Buleleng.Tahun 1980 - 1985 statistik kunjungan tamu di Buleleng 15 -20% per tahun. Dibandingkan untuk Bali 10 -12% per tahun. Memang waktu itu Buleleng sedang booming |
| TAHUN 2008 INI KITA MENYAMBUT ULANG TAHUN "LOVINA" KE 55 |
| Drs. I Gusti Ngurah Ketu, A.A.Ngurah Sentanu dan Bpk Bagus Putu Kari saat Muscab PHRI Buleleng tahun 1988 |
Permata Cottages- sekarang "Lovina Beach Hotel" |

Manggala Homestay 1977 |
