Puri Singaraja yang juga disebut dengan nama Puri Gde Singaraja, berlokasi di
jalan Mayor Metra No.14 di kota Singaraja.
































Untuk mengetahui sejarah mengenai Puri Singaraja, memerlukan sumber yang
akurat sebagai acuan sejarah. Adanya beberapa sumber yang saling berbeda,
baik yang berupa naskah yang ditemui atau yang berupa certia rakyat yang
kemudian ditulis
dengan menuangkan dalam huruf Bali dengan penanggalan
simbol2 yang menuai perbedaan tafsir
yang kurang akurat.
Seperti dapat dibaca di halaman
Sejarah Buleleng, bahwa kerajaan Buleleng
sempat diperintah oleh Kerajaan Mengwi sej
jak 1723. Kemudian mulai tahun 1780
kerajaan Buleleng dikuasai raja asal Karangasem dengan mengalahkan Mengwi.
Sejak itu terjadi beberapa kali pergantian raja asal Karangasem. Salah seorang
raja asal Karangasem yaitu I Gusti Gde Karang bertakhta sebagai raja Buleleng
tahun 1806-1818. Sebagai raja Buleleng beliau juga menguasai kerajaan
Karangasem dan Jembrana. Beliau dikenal berwatak keras dan curiga kepada
bangsa asing. Memang pada jaman itu bangsa asing seperti Belanda dan Inggris
ingin menguasai Bali melalui Buleleng dan Jembrana.
Kemudian
IGusti Gde Karang membuka lahan dan mulai membangun sebuah  
Istana. Bangunan Istana tersebut terletak di sebelah Barat jalan
dengan mengabil
posisi
berseberangan dengan Puri Buleleng yang dibangun Ki Gusti Pandji Sakti
pada tahun 1660. Raja I Gusti Gde Karang tidak disukai oleh rakyat, termasuk
pembangunan Puri tidak dihiraukan rakyat
. IGusti Gde Karang mendapat
kunjungan orang2 asing Inggris seperti Albertus Wiese Daendels dan Stamford
Raffles.

Akibat letusan Gunung Tambora di Sumbawa tanggal 5 April 1815, kemudian
pada pada malam hari, Rebo tanggal 24 Nopember 1816 terjadi musibah bencana
alam banjir lumpur di Buleleng. Bangunan Puri Buleleng hanyut pada malam itu
juga. Pelabuhan Buleleng dengan perkantoran hanyut ke laut. Desa Buleleng.
dan sekitar 20 desa tertimbun lumpur dan hanyut kearah laut bersama ribuan
penduduknya menjadi korban.

Dalam catatan
yang ditemukan pada jaman raja IGusti Gde Karang, menyebutkan
b
ahwa istana raja dan Pura Desa Buleleng selamat dari malapetaka banjir. Tahun
1818 I Gusti Gde Karang terbunuh. Tidak ada yang tahu nama istana yang
dibangun I Gusti Gde Karang.

Pada
serangan Belanda ke pertama tahun 1846, puri itu dihancurkan dan dibakar
kemudian di sita Belanda yang hanya tahu itu adalah istana raja.
Seperti
diketahui, p
ihak Belanda terus menggempur Buleleng sampai jatuhnya benteng
Jagaraga tahun 1849.

Pada tahun 1850 Pemerintah Kolonial Belanda membuka kantor di a
real yang
telah mereka sita
tersebut. Belanda dalam tahapan berikutnya, tahun 1872
mengenyahkan raja Buleleng IGusti Anglurah Ketut Jelantik dengan menghukum
keluar Bali, ke Kota Bengkulu, Sumatra. Kemudian Belanda menerapkan
"Rechtstreek Bestuur" atau pemerintahan langsung dibawah Batavia dengan
mendudukkan asisten residen di Buleleg dibawah pemerintaha residen
Banyuwangi.
Kemudian 1882 Belanda metetapkan wilayah Buleleng disatukan
dengan Jembrana dengan
Ibu Kota (hoofd stad) bernama Singaraja. Wilayah
yang asalnya disebut Desa
Buleleng, kemudian menjadi Kota Singaraja. Pada
tahun 1872, dengan Staatblad Nomor 123 tahun 1882
Kota Singaraja ditetapkan
sebagai Ibu Kota Nusa Tenggara.

Dengan cara Belanda yang semena2 mengambil keputusan sepihak, tanpa
pengetahuan pihak pribumi, menyebabkan ketersinggungan para pemimpin lokal
diseluruh Bali. Secara politik, pemimpin Buleleng dipakai kurir untuk merayu raja2
di Bali. Bahkan juga penguasa lokal wilayah Lombok ke Timor.

Pada tahun 1929, Belanda mengangkat kembali penguasa lokal setingkat regent,
di masing-masing wilayah Bali, dan juga metetapkan nama kotanya.
Untuk Kerajaan Buleleng tahun 1929, Belanda mengangkat I Gusti Putu Jelantik
sebagai regent wilayah afdeling Buleleng. Untuk keperluan kediaman regent,
Pemerintah Belanda menyerahkan sebagian bekas istana raja Karangasem
tersebut.
Sejak itu Puri iini dikenal bernama Puri Sngaraja atau Puri Gde Singaraja.
Het eiland Balie en de Balienezen
(1849) halaman 117.
- -Beliling is tegenwoordige naam
van het rijk. Ofschoon meestal op
de eilanden van den Indieshe
Archipel, de rijken den naam van de
plaats, waar de vorst zijn blijf houdt,
is nogtans dit rijk, dat de noordkust
van Balie beslaat, algemeen onder
den naam van Beliling bekend
gebleven, en heft den naam
Singa-Radja niet aangenomen,
alwaar de Radjah sedert een
dertigtal jaren zijn verbleef heeft
gehouden.