Mencari sesuatu?
Ketik nama, tempat, orang di
kotak putih di bawah ini
lalu klik "Search"
Gerbang Puri Kanginan - Buleleng
Upacara Pelebon tahun 1902
*) Raja Buleleng I Gusti Gde
Karang (1800-1818) asal dari
Karangasem, pada tahun 1810
membagun istana baru di desa
Bueleng sebelah Barat jalan.  
Nama puri pada mulanya tidak
ada yang tahu.
Bangunan belum selesai karena
kemelut pemerintahan dan ikut
campurnya pihak asing. Pernah
dengan nama Istana Singapura
dan Singaraja. Tetapi rakyat
tidak mau memakai nama itu.
Pada umumnya secara adat /
budaya, nama kerajaan harus
sama dengan nama Istana Raja.
Namun ahirnya, ketika Buleleng
jatuh ke tangan Belanda, tahun
1850 puri itu dipakai kantor oleh
pemerintah Belanda dengan
menulis alamat kantor: "Het
Kantoor van Assistent Resident
te Singaraja".
I Gusti Ketut Jelantik
Pahlawan Nasional
I Gusti Putu Batan
Iwaraja Buleleng
I Gusti Ketut Jelantik
(Anak Agung Padang)
Raja Buleleng
I Gusti Bagus Jelantik
Patih Kerajaan Buleleng
I Gusti Putu Geria
Patih Cakranegara Lombok
I Gusti Nyoman Raka
I Gusti Nyoman Raka
Lid van Kerta
wafat dalam tugas 1898
I Gusti Ketut Jelantik
Punggawa Buleleng
Bale Mas
Bale Mas
Gedung Museum Buleleng 1814
dipindah ke Musem Denpasar
Gedung KPM BUeleleng
Gedung KPM
Pelabuhan Buleleng
I Gusti Bagus Suria
I Gusti Bagus Suria
Punggawa Buleleng
1916-1922
I Gusti Putu Jelantik
diangkat regent 1929
diangkat raja 1938
Anak Agung Putu Jelantik

PENDAHULUAN.

Peninggalan masa lalu seperti bangunan maupun benda lain yang disebut sebagai pusaka
leluhur atau dengan istilah warisan budaya adalah sesuatu yang mempunyai makna sangat
penting bila dipandang dari dibidang kebudayaan, sejarah dan pendidikan. Dari benda-benda
tersebut kita dapat cerminan terhadap nilai-nilai kepribadian nenek moyang terdahulu yang
melandasi pertumbuhan dan perkembangan jati diri kita dari waktu ke waktu sampai ke
generasi masa kini.

Sangatlah bersyukur dan merasa berbahagia bilamana kita masih bisa melihat bukti-bukti
peninggalan sejarah seperti Puri Kanginan yang berada di kota Singaraja Buleleng, Bali.  

Kedudukan Puri Kanginan yang berfungsi sebagai tempat kediaman keluarga bangsawan dan
juga sebagai pusat pemerintahan pada jamannya, berlokasi pada posisi yang strategis. Wajah
Puri menghadap ke arah Barat dengan halaman depan langsung mengakses perempatan
jalan utama atau yang disebut Catus Pata. Pekarangan Puri berada di atas tanah yang agak
tinggi dibanding sekitarnya. Mulai dari halaman yang paling tinggi terletak di hulu Timur
disebut Uttama Mandala, kemudian sedikit menurun ke halaman tengah atau Madya Mandala
dan menurun lagi ke halaman luar atau Kanista Mandala sampai ke pintu luar atau pemedal
menuju jalan raya atau marga agung. Masing-masing mandala dikelilingi tembok pembatas,
sedangkan ke setiap Mandala dihubungkan dengan Kori.
Bangunan Puri ini diperkirakan sudah ada pada akhir abad ke 18. Tetapi nama puri  Kanginan
mulai dikenal pada sekitar tahun 1830an. "Kanginan" dari kata Kangin berarti Timur. Puri
Kanginan artinya istana di sebelah Timur persimpangan empat "Catus Pata" dan juga
disebelah Timur pasar. Dulu lokasi Puri ini berada di banjaran "Dangin Peken" (Timur Pasar).
Sekarang Puri Kanginan berada di Banjar "Delod Peken" (Utara Pasar). Bukan Purinya yang
pindah tetapi karena pasar Buleleng dipindahkan ke tempatnya sekarang pada disekitar tahun
1898.

USAHA PEMELIHARAAN
Pemugaran berskala besar pernah dilakukan antara lain pada tahun 1840an. Kemudian
dilakukan menjelang upacara pelebon besar pada tahun 1902 (fotonya terlihat di sebelah kiri).
Juga beberapa bangunan pernah direnovasi dan penambahan bangunan pada tahun 1950.

Karena beberapa bagian bangunan tidak difungsikan lagi dan juga karena telah dimakan usia
lagipula terkena bencana alam seperti gempa bumi pada tahun 1963 dan 1976 banyak
bangunan yang rusak bahkan musnah.

Sudah semestinya ada usaha-usaha pihak terkait / berkompeten untuk mencari jalan keluar
agar bangunan bernilai sejarah ini terselamatkan.

LATAR BELAKANG SEJARAH.        
Ki Gusti Anglurah Panji Sakti, seorang putra dari dinasti kerajaan Gelgel pada abad ke 17
berhasil menyatukan seluruh daerah di sebelah utara  pulau Bali yang disebut wilayah
Denbukit dan menjadikannya sebuah kerajaan yang sangat berpengaruh. Sejak usia muda
beliau sudah memperlihatkan kedigjayaannya sebagai pemimpin sehingga beliau mendapat
nama julukan: Ki Gusti Anglurah Panji.  
Semula beliau beristana di desa Panji, di desa asal ibundanya. Atas keberhasilan beliau
sebagai raja yang mampu menyatukan wilayah Denbukit ini kemudian beliau mendirikan istana
baru dengan nama Puri Buleleng.
Setelah beberapa kali memimpin pasukan Taruna Gowak yang dibentuknya bersama-sama
rakyat beliau berhasil menaklukkan wilayah kerajaan Blambangan yang berada di ujung Timur
pulau Jawa. Nama beliau ditambah dengan sebutan kata Sakti menjadi Ki Gusti Anglurah Panji
Sakti. Baca >>

PURI KANGINAN TEMPAT BERLINDUNG DARI MUSIBAH BANJIR.  

Pada waktu wilayah Buleleng dikuasai kerajaan Karangasem, raja Buleleng pada waktu itu
adalah I Gusti Gde Karang yang sedang jaya dan berkuasa, pada malam hari Rebo, 22
Nopember 1815 terjadi musibah banjir, sebagai akibat meletusnya gunung Tambora di pulau
Sumbawa 7 bulan lalu (bulan April 1815) yang mengakibatkan gempa bumi hebat dan hujan
lebat turun beberapa hari tanpa henti. Tiga buan danau, yaitu Danau Beratan, Buyan dan
Tamblingan semuanya meluap menghancurkan sebuah pemukiman yang lama kemudian
berubah nama menjadi desa Benyah yang artinya luluh lantak. Sekarang dikenal dengan
Desa Wanagiri.

Luapan air danau menjebol dinding sebelah Utara dan mengakibatkan lereng bukit penyangga
danau Buyan pecah. Banjir lumpur yang dahsyat melanda wilayah Buleleng dibahagian
tengah. Banyak desa yang tertimbun sehingga menewaskan penduduknya. Bangunan Puri
Sukasaddha yang berada di desa Sangket seluruhnya hanyut demikian juga puri Bangkang
ikut terlanda banjir. Para penghuni di puri Sukasaddha dan puri Bangkang banyak yang
menjadi korban tewas karena tertimbun lumpur dan hanyut ke laut lepas.

Desa Kedu, Mandala, Kedis, Tepok Basa, Sambangan, Bangkang, Galiran, Panji,
Pebantenan, Bratan, Banjar Manduang, Banjar Tengah, Bangjar Badung, Banjar Bungkulan,
Sukadadi, Buleleng sampai Pabean mendapat bencana banjir lumpur sekitar 3 sampai 4 meter
tebalnya. Diperkirakan 12000 jiwa jadi korban.

Malapetaka banjir yang dahsyat itu juga melanda puri Buleleng yang dibangun oleh Ki Gusti
Anglurah Panji sakti pada abad ke-17 sampai hancur dan hanyut ke sungai di arah ke sebelah
Timur. Penghuni Puri Buleleng waktu itu, yang terdiri dari keluarga raja, baik asal Karangasem
maupun asal Buleleng, mereka semua, tua dan muda lari menyelamatkan diri dari kepungan
banjir. Mereka berkumpul di sebuah pekarangan yang keberadaan tanahnya agak tinggi
sehingga aman dari bahaya
banjir. Tanah pekarangan itulah yang dikenal sekarang sebagai Puri Kanginan. Sejak sekitar
tahun 1816, roda pemerintahan kerajaan Buleleng dikendalikan dari Puri Kanginan.

Banjir terus ke menghanyutkan apapun yang menghadangnya, Wilayah yang terkena sampai
di desa Kalibukbuk di Barat. Ke sebelah Timur banjir tersalur oleh sungai Tukad Buleleng.
Namun sebuah mesjid besar hanyut sampai ke pantai Pelabuhan Buleleng bersma-sama
dengan bangunan di kampung Bugis, Kampung Kajanan, Banjar Bali tergerus ke laut. Banyak
orang sudah meupakan peristiwa itu, namun sejarah telah menoehkan sebagai malapetaka
hebat di sepanjang sejarah.

*) Dalam peristiwa itu bangunan kediaman Raja I Gusti Gde Karang yang berada di
pekarangan yang tinggi selamat dari kepungan banjir.*)

Wilayah Nusantara memang sejak dulu sudah menjadi incaran bangsa asing untuk dikuasai
termasuk juga Pulau Bali mulai terusik dan ingin ditaklukkan oleh pihak asing seperti bangsa
Inggris dan Belanda. Dengan demikian maka masing-masing kerajaan di Bali mendapat
tantangan untuk bisa mempertahan diri dari tekanan bangsa asing. Dari kondisi seperti itu
maka pada tahun 1940 tampil I Gusti Ketut Jlantik untuk untuk memperkuat ketahanan
pemerintahan di Buleleng. Dengan lebih mengakar kepada rakyat beliau memimpin dengan
tekad dan semangat yang baru untuk menata dan mengukuhkan pengaman kerajaan
Buleleng. Atas inisiatif beliau inilah berhasil menjalin kerja sama yang baik dengan raja baru
yaitu I Gusti Made Karang

Setelah pemerintahan yang baru mantap I Gusti Ketut Jlantik sebagai Patih Buleleng dengan
demikian beliau bersemayam di Puri Kanginan melanjutkan dinasti Ki Gusti Anglurah Panji Sakti

Sedangkan I Gusti Made Karang bersemayam di Puri Kawan melanjutkan tradisi sebagai pihak
Karangasem.

Pasangan Patih I Gusti Ketut Jlantik dan Raja I Gusti Made Karang mendapat sambutan yang
baik di hati rakyat Buleleng. Di bawah dua pimpinan pemerintahan ini pembangunan di bidang
spiritual budaya meningkat. Puri-puri dibenah dan dibangun, selain itu juga dibangun pura
desa, pura dalem dan pura segara yang sekarang kita warisi.  

PERAN PURI KANGINAN

Dalam pada itu pihak kolonial Belanda mulai terang-terangan ingin menguasai Bali dengan
menaklukkan Buleleng terlebih dahulu. Maksud Belanda itu tentu saja sangat ditentang oleh
rakyat Buleleng dan juga masyarakat Bali secara keseluruhan. Dibawah pimpinan I Gusti Ketut
Jlantik dengan menjalankan taktik “tawan karang” maka pecahlah perang melawan pasukan
kolonial Belanda. Pertempuran dimulai di pelabuhan Buleleng meluas sampai di Catus Pata.
Sebagai basis perlawanan melawan kolonial Belanda Puri Kanginan mengalami beberapa kali
serangan meriam angkatan laut Belanda sehingga mengalami kerusakan berat.

Kemudian I Gusti Ketut Jlantik menghimpun pasukan dari seluruh kerajaan di Bali dan
membuat benteng di desa Jagaraga. Dengan gagah berani rakyat Buleleng dengan pimpinan I
Gusti Ketut Jlantik sempat menghalau pasukan Belanda. Peristiwa ini dikenal dengan "Perang
Jagaraga". Namun serangan pasukan Belanda yang lebih besar dengan persenjataan yang
lebih modern akhirnya dapat menaklukkan pasukan rakyat Buleleng. Belanda berhasil
menguasai wilayah Buleleng pada tahun 1849. Sedangkan I Gusti Ketut Jlantik gugur sebagai
pahlawan. Sebagaimana telah diketahui, I Gusti Ketut Jlantik oleh pemerintah RI telah diangkat
sebagai pahlawan nasional.

Bagaimanapun juga pada kenyataannya pemerintah kolonial Belanda sudah mencengkram
bumi Panji Sakti. Dalam kondisi dan situasi yang baru ini, Puri Kanginan kembali berperan
sebagai tempat berkumpulnya keluarga keturunan Ki Gusti Anglurah Panji Sakti untuk
menentukan nasib wilayah kerajaan Buleleng.

Waktu itu di antara prati sentana Ki Gusti Anglurah Panji Sakti, sudah ada yang bermukim di
masing-masing puri seperti di desa Bangkang, di desa Kubutambahan dan di desa
Tukadmungga.

Dalam musyawarah keluarga besar bertempat di Puri Kanginan, I Gusti Putu Batan yang
menjabat sebagai Sedahan Agung karena merasa sudah berusia lanjut beliau mengelak untuk
dicalonkan sebagai raja Buleleng. Putra beliau I Gusti Made Singaraja sudah menekuni bidang
desa adat dan aktif di pura Desa Bale-Agung Buleleng. Dari beliaulah muncul prakarsa untuk
mengukuhkan kembali Cacakan 40 dan terbentuknya Tridatu di desa adat Buleleng dengan
busana khasnya.

Dengan kesepakatan keluarga besar akhirnya berhasil diangkat raja Buleleng yaitu I Gusti
Ngurah Ketut Jlantik yang dinobatkan di Puri Kanginan pada tanggal 20 Desemaber1860
dihadapan para punggawa dan pembesar Belanda waktu itu.










Pada tahun 1873, sebagaimana tercatat dalam sejarah bahwa Anak Agung Ngurah Ketut
Jlantik dituduh melanggar peraturan dalam menjalankan pemerintahan dan dicurigai tidak
berpihak pada pemerintahan Belanda terkait Perang Banjar. Beliau diekstradisi atau dihukum
buang ke kota Bengkulu, Padang Sumatera selama 13 tahun. Maka belaiu dan dikenal
dengan julukan Anak Agung Padang.

I Gusti Bagus Jlantik sebagai Patih Buleleng dan merangkap punggawa Penarukan sejak 1873
diberikan tugas dan wewenang penuh oleh assistent resident waktu itu bernama F.C. Valck
untuk meneruskan kebijakan dalam menjalankan tata pemerintahan di Buleleng. Beliau juga
diberikan kuasa untuk mengangkat para punggawa dan perangkat pemerintah yang
diperlukan.

Generasi berikutnya, yaitu I Gusti Putu Geriya masih berumur muda menjabat punggawa
Buleleng mulai tahun 1886. Beliau telah dicanangkan untuk dicalonkan sebagai raja Buleleng
bilamana nantinya dianggap sudah cukup berpengalaman. Tetapi ternyata kemudian terjadi
perobahan. Bahwa pada tahun 1895 I Gusti Putu Geriya harus dikirim ke Mataram Lombok
karena situasi memaksa pemerintah harus menempatkan orang Buleleng di sana untuk
meredam gejolak. I Gusti Putu Geriya menjabat sebagai Patih di Mataram Lombok dan
bertempat tinggal di Puri Ukir Kawi Cakranegara. Untuk menunjang tugas yang berat di tempat
baru itu beliau mengajak saudara-saudaranya dari Puri Kanginan untuk diangkat sebagai
punggawa, sedahan, pekasih dan lainnya di Mataram Lombok. Maka sejak itu beberapa
keluarga dari Puri Kanginan ikut bemukim di sana sampai sekarang.

Sebagai pengganti I Gusti Putu Geriya maka diangkat I Gusti Nyoman Raka sebagai
punggawa Buleleng sejak 1895. Disamping sebagai punggawa beliau juga sebagai Lid Raad
Kerta. Beliau wafat terkena ledakan mesiu di ruang kerjanya sebagai barang bukti pada tahun
1898. Almarhum  dikenang dengan julukan Dewata Geseng. Penggantinya adalah adik beliau
yang yaitu I Gusti Ketut Jlantik

PENGEMBANGAN =SOSIAL - EKONOMI  - BUDAYA=.

I Gusti Ketut Jelantik sebagai Punggawa Distrik Buleleng ternyata menjabat cukup lama
sebagai punggawa Buleleng, sejak 1898 - 1915  yang mendapat julukan Ratu Punggawa
Lingsir. Beliau dikenal pekerja ulet.

Sejak dilantiknya Wilhelmina tahun 1898 sebagai Ratu Keajaan Belanda, kebijakan banyak
berubah. Setelah menjalankan kebijakan cultuurstelsel maka sejak 1901 pemerintah Belanda
menjalankan "etische politiek". Sejak itu pemerintahan Buleleng lebih banyak dikendalikan
oleh pejabat lokal Buleleng, seperti Patih, Sedahan Agung dan para Punggawa, Perbekel.    

Pembangunan sarana umum sesuai dengan keperluan waktu itu seperti jalan, pasar,
penataan kawasan kantor dan para pejabat pemerintahan dan tempat ibadah serta kuburan
sampai pada pemukiman dikerjakan berkesinambungan. Beberapa hasil pembangunan itu
masih bisa kita lihat dan kita warisi sampai sekarang. Dalam tahun-tahun itu penduduk luar
banyak berimigrasi dan menetap di wilayah Buleleng, karena masyarakat Buleleng sedang
giatnya membangun dan ekonomi mulai maju. Selain sebagai ibu kota Bali-Lombok juga
masyarakat mulai makmur dengan adanya pelabuhan Buleleng sebagai pusat perdagangan.













"BALE MAS" Museum Buleleng 1912. Museum ini dipindahkan ke Denpasar tahun 1929
disatukan dengan Museum Bali

Tahun 1913 pembangunan sarana pendidikan rakyat dilaksanakan, bukan saja di kota namun
sampai ke desa-desa. Pengembangan seni budaya terus dipacu dengan membentuk sekeha
yang disebut sekeha sebunan. Pergelaran dilaksanakan secara berkala pada setiap hari raya
31 Agustus yang dikenal dengan nama “raja kuning” (tanggal lahir "raja / koningin” atau Ratu
Belanda Wilhelmina) seperti pementasan gambuh, barong dan rangda, gong kebyar, sastra
dan lainnya. Seni tabuh asli Buleleng, utamanya gong kebyar berkembang pesat sehingga
munculnya nama-nama seniman besar seperti Pan Wanres, Gde Manik dan lainnya. Tidak
ketinggalan juga bidang seni suara dan sastra Buleleng.

Masih banyak tugas punggawa lingsir I Gusti Ketut Jlantik dalam membangun Buleleng belum
kesampaian. Beliau wafat tahun 1914.    Baca Riwayat

Sebagai pengganti adalah generasi berikutnya yaitu I Gusti Bagus Suria sebagai punggawa
Buleleng yang dijabat sejak tahun 1916 sampai 1922. Kebijakan beliau meneruskan tugas
pendahulunya. Seni tabuh terus berkembang dan gong kebyar terus makin populer. Sehingga
pernah terjadi almarhum sang maestro I Gde Manik "diculik" dibawa ke Gianyar diminta untuk
mengajarkan teknik kendang dan tabuh gong kebyar.

I Gusti Bagus Surya wafat dan dipelebon secara upacara besar tahun 1922 di Puri Kanginan.
Kapal dagang KPM membawa turis, bahkan  beberapa kapal Angkatan Laut Kerajaan Belanda
hadir di pelabuhan Buleleng membawa tamu pembesar Belanda untuk menghadiri dan
menyaksikan pelebon.

Residen  Bali dan Lombok L.J.J.Caron tahun 1928 membuka "Stichting van Liefrinck en van
der Tuuk" yaitu perpustakaan bahasa, adat dan budaya. Suatu langkah dari gagasan dan
pemikiran yang patut dihargai.     

I GUSTI PUTU JLANTIK DIANGKAT RAJA .

Setelah pemerintahan dan kondisi masyarakat di Buleleng sudah cukup mantap, maka pada
tahun 1929 I Gusti Putu Jlantik, putra I Gusti Putu Geriya, ditetapkan oleh pemerintah Belanda
sebagai regent. I Gusti Putu Jlantik bukan saja berpengalaman sebagai pegawai negeri, tetapi
juga sejak lama menekuni sastra, adat dan budaya Bali. Beliau ikut  memberikan "isi" kepada  
"Stichting van Liefrinck en van der Tuuk"  dengan banyak naskah dalam bentuk rontal (kitab
daun rontal dengan huruf Bali). Ditambah dengan nama Gedong Kertya sehingga seperti kita
ketahui nama Gedong Kertya akhirnya lebih populer.

Kemudian I Gusti Putu Djlantik pada 29 Juni 1938 diangkat sebagai raja atau zelfbestuurder
dengan upacara besar di Pura Besakih bergelar Anak Agung Negara Buleleng bersama-sama
dengan 7 raja Bali yang lain.
Jalan Gajah Mada, pernah bernama Wilhelmina Straat,dibangun th 1909
SELAMAT DATANG DI PURI KANGINAN - BULELENG
MASIH DALAM PENYEMPURNAAN