RIWAYAT PURA IBU
I Gusti Panji, yang sejak umur 12 tahun menetap di desa
Gobleg dan diasuh pamannya yang bernama I Wayan
Pasek. I Gusti Panji sejak umur belia sudah menampakkan
ciri-cirinya sebagai pemimpin. Desa-desa sekitar Panji
disatukan dan tokoh-tokoh lokal diangkat dan didudukkan
kembali (rehabilitasi) demi kepentingan masyarakat
banyak. Penduduk merasa mendapat perlindungan dan
memimpin mereka.
Setelah itu, I Gusti Panji  memindahkan pura yang berada
di desa Gendis, yang disungsung oleh krama desa Gendis
dan desa-desa sekitarnya. Pura itu dipindahkan ke desa
Panji. Seluruh masyarakat penyungsung pura tersebut
menyatakan persetujuannya dan pura itu dijadikan Pura
Desa Panji.

Tidak lama kemudian, I Gusti Panji  membangun puri,
terletak di sebelah timur jalan, berseberangan dengan
Pura Desa yang baru selesai. Puri tersebut memang tidak
dibangun secara mewah, namun sudah dilengkapi dengan
merajan. Beliau sangat bersukur, karena segala petunjuk
ayahnya, I Gusti Ngurah Jelantik, semasih di Puri dahulu
sebagaimana ditegaskan kepada I Wayan Pasek,
sekarang bisa diwujudkan.
Sebagai pusat pemerintahan, desa Panji perlu dilengkapi
dengan tananan kepemimpinan yang terorganisir dengan
baik. Untuk itu I Gusti Ngurah Panji mengangkat pimpinan
desa yang di sebut Panca Datu yang wewenangnya
diberikan kepada lima trah keluarga. Pengemong Pura
Ibu sebagai Penyarikan dalam tatanan Panca Datu itu.
Setelah seluruh wilayah Ler Gunung atau lebih dikenal
dengan Den Bukit, berhasil disatukan dengan nama
Nagara Buleleng, beliau bergelar I Gusti Ngurah Panji
Sakti. Kekuasaannya sampai ke Blambangan.
I Gusti Ngurah Panji Sakti moksah di Puri Panji
diperkirakan pada tahun 1704 (menurut Henk Schulte
Nordholt).
Nama:
Email:
Alamat rumah:
Komentar:
KIRIM MASUKAN ATAU SARAN
You need Java to see this applet.
Semenjak itu penduduk bergembira dan sepakat  untuk
memberi beliau gelar "Ngurah", maka nama beliau menjadi
I Gusti Ngurah Panji.
HALAMAN 2
Desa Panji sebagai pusat pemerintahan.
I Gusti Gde Pasekan,
demikian nama kecil I
anak yang "disingkirkan"
dari Linggarsana Pura  
karena mempunyai
kemampuan supra natural
yang dikawatirkan menjadi
saingan yang bisa
mengalahkan putra
mahkota.
Ngurah Panji Sakti surut. Waktu berkuasanya raja yang
bernama I Gusti Paang Canang tahun 1818-1823,
keturunan I Gusti Ngurah Panji Sakti  diburu hingga
banyak tewas terbunuh. Yang ada di desa Panji tak
terkecuali, anak-anak, para ibu, para kakek semua naik
yang lari ke desa Soka Tababan. Yang tinggal di
Sukasada lari ke desa Depaha dan desa lainnya sampai
ada yang ke Lombok. Bahkan ada yang masuk Islam.

Harta milik prati sentana I Gusti Ngurah Panji Sakti dijarah
oleh I Gusti Paang Canang. Bangunan Puri Buleleng,
bangunan merajan sungsungan leluhur dimusnahkan
oleh pasukan pengikutnya dan diratakan dengan tanah.
Merajan Agung di desa Panji dihancurkan demikian juga
nasib yang menimpa bangunan Pura Ibu.

Setelah tahun 1830, semenjak I Gusti Ketut Jlantik
(Pahlawan Nasional) memegang wilayah Buleleng
berkedudukan sebagai Patih, barulah para sentana I
Gusti Ngurah Panji Sakti berani kembali ke purinya
masing-masing. Mereka membangun kembali puri dan
merajannya. Tetapi tidak seluruhnya kembali ke puri asal.
Masih ada yang menetap di desa seperti di Depaha, di
Perean dan juga yang di Lombok. Yang mengungsi ke
Soka kembali ke desa Bangkang dan membangun
kembali puri dan merajannya. Tetapi tidak semuanya
kembali ke Bangkang, sebagian membuat puri di
Tukadmugga lengkap dengan bangunan merajan.
Mereka membentuk beberapa sub-dadya. Walaupun
demikian, sebagai prati sentana I Gusti Ngurah Panji
Sakti secara keseluruhan, mereka tetap menyungsung
Pura Pajenengan sebagai Merajan Kawitan yang berada
di desa Panji.

2. Uit de Indische Letteren
1855-1868.

3. Babad Blahbatuh -
C.C. Berg

4. Dokumen Puri Buleleng.