Sebuah Pura yang terletak di dekat pusat desa Panji yang
oleh masyarakat desa Panji dikenal dengan nama Pura
Ibu atau Pura Ibu Desa (Panji). Lokasi Pura Ibu sebetulnya
dekat dengan jalan raya, namun masyarakat luar tidak
banyak yang mengetahui, karena terisolir oleh pemukiman
penduduk yang hanya dihubungkan oleh lorong setapak.
Kondisi Pura tersebut sangat memprihatinkan. Betapa
tidak! Namanya sebuah pura namun tidak lebih dari
onggokan tinggalan puing-puing sisa bangunan pura.
Selama ratusan tahun memang sedemikian keadaannya,
demikian keterangan dari I Gusti Putu Wija sebagai
pengemong Pura Ibu. Beliau masih kerabat dekat trah I
Gusti Ngurah Jlantik, Blahbatuh – Gianyar. Beliau juga
mengatakan tidak pernah mendapat informasi yang jelas
dari panglingsir beliau mengenai bentuk bangunan Pura.
Sejak dulu hanya didapati sisa-sisa reruntuhan
bebaturannya, hanya tembok panyengker masih jelas
walaupun juga sudah banyak rusak.
Mereka yang mempunyai keterkaitan akan merasa
terpanggil. Tampak dalam foto ketika diadakan pertemuan
di lokasi Pura Ibu untuk merencanakan proses
pembangunan, mulai dari penggalian dana, pembangunan
fisik sampai pada upacara penyelesaian.
Sudah sejak dahulu masyarakat meyakini, bahwa yang
melinggih di Pura Ibu itu adalah Ni Luh Pasek Gobleg tidak
lain adalah Ibundanya I Gusti Ngurah Panji Sakti. Telah
sejak lama secara rutin krama desa Panji melakukan
upacara seperti piodalan, mapiuning setiap ada aci-aci di
kayangan desa bahkan mapinunasan bila ada anggota
masyarakat memerlukan. Selain itu pula Pura Ibu sudah
menjadi salah satu Kahyangan Desa di samping
parahyangan lainnya di wewidangan desa Panji.
Memang benar. Berselang beberapa waktu kemudian,
sejak tahun 2000an terjadilah suatu hubunganan antar
orang per orang yang merasa terpanggil dan akhirnya
tekad mereka membulat yang akhirnya memuncak untuk
memugar Pura Ibu. Proses pemugaran dan penggalian
dana berjalan bergandengan secara alami melibatkan
orang-orang yang terpanggil. Akhirnya tewujud.
Pamelaspas Pura Ibu dapat diselenggarakan pada hari
Purnama Kadasa, 18 Juni 2008.