S E J A R A H
Tersebut kisah Dangyang Niratha datang dari
Majapahit ke Bali. Jaman itu Bali diperintah
oleh Dalem Waturrenggong...

(akan disambung)
Mengangkat Pedanda Kemenuh sebagai Purohita.
Pada waktu pemerintahan Gelgel dikuasai I Gusti Agung Maruti dengan gelar
Dalem Maruti Di Made, sebagaimana telah diceritakan, banyak petinggi kerajaan
mengungsi ke luar wilayah Gelgel, ada yang ke wilayah Timur ada yang ke Barat,
bahkan ada yang ke Den Bukit.
Demikian juga dialami oleh seorang Pendeta Brahmana Kemenuh yang bergelar
Pedanda Wiraghasandi ingin kembali ke Jawa karena merasa sudah tidak
diperlukan lagi berada di Gelgel yang pemerintahannya tidak seperti dulu lagi.
Beliau dengan keluarga dan pengiring yang setia sudah beberapa lama berada di
desa Kayuputih wilayah Den Bukit. Beliau diterima baik oleh Bendesa Ki Pasek
Gobleg. Pedanda Wiraghasandi selain ahli dalam Weda juga pandai membuat
senjata seperti keris bertuah, sehingga dikenal dengan "keris pakaryan Kayuputih".
Pada suatu hari Ida Pedanda bersiap untuk berangkat meneruskan perjalanannya
kembali ke Jawa, karena sudak cukup lama berada di desa Kayuputih. Namun
dicegah oleh Bendesa Ki Pasek Gobleg agar beliau jangan pergi dan mohon dengan
sangat kesediaannya untuk terus menetap di Kayuputih. Ida Pedanda mengatakan,
beliau merasa ragu untuk mengikuti permintaan Ki Bendesa  karena belum
mendapat ijin I Gusti Ngurah Panji. Seketika Ki Pasek Gobleg tersentak, bahwa
benar apa yang dikatakan Ida Pedanda. Maka segera Ki Pasek Gobleg minta diri
dan segera menghadap I Gusti Ngurah Panji di Puri Panji.
Setelah Ki Pasek Gobleg memaparkan peristiwa yang menimpa Ida Pedanda
Wiraghasandi, segera I Gusti Ngurah Panji menyongsong ke Kayuputih. Singkat
cerita, terjadilah pembicaraan yang akrab dan saling menghormati. I Gusti Ngurah
Panji mengangkat Ida Pendanda Wiraghasandi sebagai Bagawanta atau Purohita
dan dikenal dengan nama Pedanda Sakti Ngurah. Beliau dipindahkan ke Asram
Banjar Ambengan
Desa Banjar, dengan pengikut sebagai sisya 3000 orang di
wilayah sebelah Barat Kalibukbuk.



Dengan didampingi seorang Bagawanta, I Gusti Ngurah Panji setiap waktu bisa
mendapat petunjuk mengenai tata cara dan melengkapi persyaratan dalam
membentuk kerajaan yang kuat dan mandiri. Atas petunjuk yang diberikan oleh
Sang Bagawanta dibangun Prangkat Tatabuhan sebagai salah satu kelengkapan
sebuah Kaprabonan atau Kerajaan. Perangkat tatabuhan diberi  nama Juruh
Satukad, paling depan dan belakang adalah Terompong, karena suaranya sangat
menyayat hati dan manis seperti madu mengalir memenuhi sungai. Sepasang
padahi disebut Bentar Kedaton karena suaranya seperti guruh membelah langit.
Sebuah
bende dinamai Ki Gagak Ora, suaranya seperti ribuan burung, sebuah
petuk kajar
dikenal dengan nama KI Tundung Musuh, dengan suara mengerikan
membuat musuh lari terbririt-birit. Kemudian ada
beri yang namanya Glagah
Katunwan dengan suara seperti padi kebakaran yang sangat menakutkan.
Kemudian ada sepasang
gubar, suaranya seperti guntur bertalu-talu karenanya
diberi nama Gelap Kesanga. Demikianlah Tatabuhan yang telah dimiliki oleh I Gusti
Ngurah Panji yang telah menyatakan diri sebagai raja Buleleng (Den Bukit)
I - II - III - IV - V - VI - VII - VIII - IX - X - XI
I GUSTI ANGLURAH PANJI SAKTI
MENGANGKAT PUROHITA
HOMPAGE
INDEX
BALI LINTAS JAMAN
SEJARAH BULELENG
ULASAN BABAD
SILSILAH
TULIS KESAN
MEMBUAT TATABUHAN KERAJAAN