S E J A R A H
Uder construction
Dalam seuatu upacara piodalan di Pura Gedong Blahbatuh, I Gusti Ngurah Panji
secara khusus melalukan persembahyangan. Hal itu dilakukannya mengingat usia
beliau yang uzur mendekati seratus tahun. Beliau sudah menekuni hal spiritual,
kekuasaan duniawi sudah dilepaskan dan dilimpahkan kepada para sentana.
Entah berapa hari beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti berada di Blahbatuh, oleh
karena sudah handal kedudukan Ki Gusti Ngurah Jelantik, bukan main senangnya
beliau berdua dalam hubungan keluarga, sama-sama memperingatkan perjanjian
saling mengadakan pengakuan, paprasan, sehingga tidak luntur rasa cinta kasih dan
keteguhan ikatan kekeluargaannya, serta keturunannya, suatu kedudukan untuk
cucunya kemudian. Sesudah sama-sama menyepakati ikrar itu, Ki Gusti Ngurah
Panji Sakti, menunjukkan kebesarannya, dengan menghadiahkan tombak Ki
Pangkajatatwa*), kepada cucunya, Ki Gusti Ngurah Jelantik, sebagai pemberian
resmi kepada cucu, tujuannya sebagai tanda sampai di kemudian hari. Setelah beliau
selesai memberikan wejangan kepada anak cucunya tentang ajaran Kamahayanikan,
serta tata cara memimpin wilayah, I Gusti Anglurah Panji memberikan beberapa
cincin di antaranya sebuah cincin bermata ratna kastubha. Setelah seluruh rangkaian
upacara selesai, I Gusti Ngurah Panji Sakti kembali pulang ke Buleleng (Den
Gunung). Beliau moksa di puri Panji Buleleng, demikian ceritanya.

Keterangan *). Ki Pangkajatatwa juga disebut dengan nama Ki Tunjungtutur
adalah sebuah sumpitan, pipa dengan anak panah yang ditiup. Bahasa Belanda
"blaasroer" atau "blaaspijp".
I GUSTI ANGLURAH PANJI SAKTI
PUSAKA KI PANGKAJA TATTWA
DIHADIAHKAN KE BLAHBATUH
I - II - III - IV - V - VI - VII - VIII - IX - X - XI - XII
HOMPAGE
INDEX
BALI LINTAS JAMAN
SEJARAH BULELENG
ULASAN BABAD
SILSILAH
TULIS KESAN
I - II - III - IV - V - VI - VII - VIII - IX - X - XI