HOMPAGE
INDEX
RIWAYAT PANJI SAKTI
SEJARAH BULELENG
ULASAN BABAD
SILSILAH
TULIS KESAN
S E J A R A H
Lovina Beach Hotel
Nama I Gusti Anglurah Panji Sakti atau
dipendekkan dengan Panji Sakti sudah
termasyur, bukan saja di Buleleng dan
Bali, tetapi sudah ke seluruh pelosok
dunia. Tokoh pelaku sejarah yang riil di
abad ke 17 ini, bukan sekedar ceritra
rakyat, legenda ataupun dongeng.

Beberapa bentuk riwayat I Gusti
Anglurah Panji Sakti sempat dijumpai.
Yang paling populer di kalangan
masyarakat di Bali adalah versi Babad
Buleleng, yang sejauh ini sudah
dianggap sumber yang paling otentik /
lengkap.

Namun, perlu juga diketahui bahwa
nama Panji Sakti juga ditemukan dalam
beberapa naskah yang lebih kuna
seperti Pamancangah dan Babad
Blahbatuh yang juga disebut sebagai
sumber penulisan Babad Buleleng
(Worsley).

Selain itu ada juga catatan kuna
bersumber dari masyarakat jaman
dahulu. Nama Panji Sakti juga ada
disebut dalam catatan yang dibuat oleh
Belanda pada jaman VOC.

Di halaman ini akan kami mencoba
merangkai beberapa sumber, semoga
mendapatkan suatu yang menyegarkan
terutama bagi para pengunjung yang
tertarik
I Gusti Ngurah Jelantik VI Panglima Perang kerajaan Gelgel.

Diceritakan setelah Pulau Bali berhasil ditaklukkan kerajaan Majapahit pada tahun
1343 maka kemudian Mahapatih Gajah Mada mengangkat Adipati berasal dari
Jawa yang diberi gelar Dalem Ketut Kresna Kapakisan sebagai Raja Bali. Istana
beliau berada di Samprangan, wilayah Gianyar sekarang, sebagai pusat
pemerintahannya. Pada mulanya pemerintahan Dalem Samprangan mendapat
reaksi dari masyarakat asli, Bali Mula, membuat Pulau Bali kurang aman.
Untuk menjaga kestabilan dan keamanan pemerintahan, pada tahun 1352 Patih
Gajah Mada mengangkat Sri Nararya Kapakisan berasal dari Jawa Timur sebagai
Perdana Menteri sekaligus sebagai Penasehat Dalem.
(Baca:
Runtuhnya Kerajaan Bedahulu).

Alkisah setelah beberapa keturunan berlalu, disebutlah seorang dari keturunan
Sri Nararya Kapakisan / I Gusti Nyuh Aya, yang bergelar I Gusti Ngurah Jelantik
VI, menjabat sebagai Panglima Perang yang dihandalkan oleh raja yang bergelar
Dalem Sagening yang istana dan pemerintahannya telah berpindah dari
Samprangan ke Gelgel. I Gusti Ngurah Jelantik beristana di puri Jelantik -
Swecalinggarsapura, tidak jauh dari istana raja di Gelgel.

Di puri Jelantik, banyak para abdi laki-laki dan perempuan yang berasal dari
berbagai tempat. Di antara para abdi ada seorang perempuan pelayan (pariwara)
yang sehari-harinya bertugas sebagai penjaga pintu, bernama Ni Pasek Gobleg.
Pada suatu hari, I Gusti Ngurah Jelantik pulang dari bepergian. Pada saat beliau
melangkahkan kaki masuk halaman puri, waktu itu sang pariwara Ni Pasek Gobleg
baru saja selesai membuang air kecil (angunyuh). I Gusti Ngurah Jelantik terkejut
ketika beliau menginjak air yang dirasa hangat di telapak kakinya. Beliau meyakini
air itu tidak lain adalah air kencing Ni Pasek Gobleg, pelayan dari desa Panji
wilayah Den Bukit itu.Timbul gairah birahi I Gusti Ngurah Jelantik kepada Ni
Pasek Gobleg dan serta merta menjamahnya. Hubungan cinta kasih yang
melibatkan I Gusti Ngurah Jelantik dengan pelayannya tidak diketahui oleh
isterinya, I Gusti Ayu Brang-Singa.

Dari larutnya hubungan itu, tidak berselang lama Ni Pasek Gobleg mengandung
dan sampai pada waktunya, lahir seorang bayi laki-laki yang sempurna yang diberi
nama I Gusti Gde Pasekan. Nama itu diambil dari pihak sang ibu yang berasal dari
trah Pasek.
Beberapa waktu kemudian, sang pramiswari, I Gusti Ayu Brang-Singa, setelah
kehamilannya cukup waktunya, juga melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi
nama I Gusti Gde Ngurah. I Gusti Gde Pasekan lebih tua dari I Gusti Gde Ngurah.

Disebutkan, bahwa dari ubun-ubun I Gusti Gde Pasekan muncul berkas sinar,
tambahan lagi lidahnya berbulu. Melihat keistimewaan I Gusti Gde Pasekan,
muncul perasaan was­was I Gusti Ayu Brang-Singa, bilamana di kemudian hari
nanti, I Gusti Gde Pasekan akan lebih disayang oleh I Gusti Ngurah Jelantik. Lagi
pula akan bisa mengalahkan kedudukan I Gusti Gde Ngurah, putranya sendiri yang
lebih berhak atas segala warisan. Ujar Ni Gusti Ayu Brang-singa: „Kakanda Gusti
Ngurah, dari manakah asal-usul anak bayi ini, kakanda?"
Dijawab oleh I Gusti Ngurah Jelantik: „Baiklah adinda, bayi itu asalnya dari
kakanda sendiri, dilahirkan dari seorang pariwara bernama Ni Pasek Gobleg,
berhubungan hanya sekali".

Menyahut Ni Gusti Brang-Singa dengan air muka sedih: „Kalau begitu baiklah.
Tetapi bila bayi ini tetap berada disini, maka masalah ini membuat adinda akan
menentang. Bilamana anak ini memiliki hak di Purl Jelantik". Demikian kata-kata
sang isteri kepada Ki Gusti Ngurah Jelantik yang langsung menjawab: „ Jangan
merasa gundah, adinda. Anak itu bersama ibunya akan meninggalkan tempat ini
dan pergi ke Ler Gunung". Mendapat jawaban demikian wajah Ni Gusti Ayu Brang-
Singa kembali tampak berseri.
Sampailah diceritakan, seseorang bernama I Wayahan Pasek dari desa Panji, dalam
perjalanan telah sampai ke puri Jelantik, menjenguk Ni Pasek Gobleg, ibu I Gusti
Gde Pasekan. Ki Wayahan Pasek adalah saudara mindon Ni Pasek Gobleg. Di
dalam puri, I Gusti Ngurah Jelantik sudah siap menanti. Demikian sabda I Gusti
Ngurah Jelantik: „Wahai engkau Wayahan Pasek. Bawalah olehmu I Gde Pasekan
ke Ler Gunung. Perintahku kepadamu, agar engkau memandang dia sebagai gusti-
mu di sana. Lagi pula di dalam tata laksana upakara terhadapnya jangan dicemari
(carub), karena dia adalah sejatinya berasal dari aku".  Sembah atur I Wayahan
Pasek: „Baiklah, hamba junjung tinggi wacanan Gusti. Semuanya sudah jelas bagi
hamba." 1)

1) Sabda Ki Gusti Ngurah: ,,E, kita Wayahan Pasěk, anakta Ki Gĕde Pasĕkan
ajakĕn mara marêng Ler-Gunung. Manirâweh i kita,kitânggen gusti ring kana.
Sadene sira angupakāra; aywa koruban acamah, apan agawe n manira jāti”.
Matur ki Wayahan Pasěk:,,Inggih, kawulânuhun wacana n I gusti. Sampun
anangçayêng twas”.

I Gusti Gde Pasekan sudah berumur 12 tahun. Sebelum perjalanan dimulai, beliau
dibekali sebuah pusaka oleh sang ayah, I Gusti Ngurah Jelantik, berbentuk sebilah
keris. Disamping itu diberikan juga pusaka leluhur berupa tombak-tulup bernama
Ki Pangkajatattwa atau Ki Tunjungtutur. Setelah semuanya siap, perjalanan ke Ler
Gunung dimulai. Disamping ibunya, Ni Pasek Gobleg dan pamannya, I Wayan
Pasek, I Gusti Gde Pasekan diiringi oleh 40 orang pengawal, dipimpin oleh Ki
Dumpyung dan Ki Dosot.

Di saat mulai melangkah, I Gusti Gde Pasekan merasa sedih meninggalkan tempat
kelahirannya, teringat kembali akan pesan-pesan ayahnya. Teman-teman
sepermainannya akan segera ditinggalkan menuju tempat jauh di Ler Gunung.
Perasaanya penuh tanya dan keraguan. Terdengar suara seperti berasal dari keris
pusaka:  "Ih, aywa semang" yang artinya “ Ih, jangan ragu”.  I Gusti Gde Pasekan
tersentak heran, namun akhirnya senang karena keris pusaka yang diberikan
ayahandanya mampu berbicara.

Perjalanan pun dimulai. Pertama mengarah Barat selama sehari. Esoknya perjalanan
berbelok mengarah ke Utara. Jalan yang dilintasi mulai menanjak dan berkelok-
kelok. Rasa lelah mulai dirasakan oleh anggota rombongan, tetapi karena hawa
mulai dirasakan makin sejuk.
I - II - III - IV - V - VI - VII - VIII - IX - X - XI
I GUSTI ANGLURAH PANJI SAKTI
AWAL CERITA