INDEX
HALAMAN - 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 8 - 9 - 10
TULIS KESAN ANDA
Proses pembangunan di Buleleng, khususnya pelabuhan dan kota Singaraja terus berlanjut.
Namun mulai tahun 1915  Punggawa Lingsir I Gusti Ketut Jelantik mulai sakit-sakitan.
Beliau menderita sakit gangguan pernapasan. Akhirnya beliau wafat pada tanggal 14 Mei
1916 dalam umur 62 tahun. Beliau meninggalkan empat orang isteri dengan dua anak,
seorang putri bernama I Gusti Ayu Jelantik lahir tahun 1878 dan seorang putra yang lahir
tahun 1911. Ajal memang tidak mungkin bisa ditebak namun yang mengejutkan adalah,
sehari kemudian tepatnya tanggal 15 Mei 1916 kakak kandungnya, yaitu I Gusti Putu
Geriya yang pernah sebagai Patih Cakranegara Lombok, menyusul. Dua jenazah kakak
beradik berbaring bersebelahan di Bale Ageng Puri Kanginan, menunggu upacara terakhir:
Pelebon yang kemudian dilaksanakan pada 24 Agustus 1917 di Puri Kanginan Singaraja.
Yang sangat mengejutkan dan
sekaligus membuta heran adalah
sehari setelah I Guti Ketut Jelantik
meninggal, sehari kemudian
menyusul I Gusti Putu Geria,
kakak kandungnya, meninggal
pada tanggal 15 Mei 1916.
Jenazah I Gusti Ketut Jelantik
diangkut dari Kalibukbuk,
dibaringkan bersebelahan dengan
jenazah I Gusti Putu Geria.
Tidak dapat diuraikan dengan
kata-kata, betapa berita
inimembuat orang yang
mendengar pada tertegun ikut  
terharu. Jenazah dua bersaudara
yang keduanya pejabat tinggi di
Buleleng terbaring berdampingan.
Seorang warga Cina, bernama Lie
Eng Gie, kenalan akrab keluwarga
puri, setelah mendapat kabar
bahwa ada yang meninggal di puri
Kanginan, segera datang. Apa
yang dilihatnya membuat dia
sangat terkejut, sedh heran dan
menjerit, meratap karena dua ratu
sungsungannya wafat sekaligus.
AKHIR SEBUAH KISAH