INDEX
HALAMAN - 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 8 - 9 - 10
TULIS KESAN ANDA
pemerintah Belanda, masih menyatu dalam kerajaan Bali, kuburan Buleleng belum ada di
tempat yang sekarang. Waktu dahulu kuburan tersebut masih berada diwilayah desa
Banyuning (Buleleng), kira-kira 500 meter di sebelah Timur tukad Buleleng, tepatnya di
sebelah Barat desa Banyuning, di sebelah Utara jalan (margi anyar). Perlu diceritakan
bahwa jalan Singaraja - Banjar Jawa - Pabean, keadaannya belum seperti sekarang, masih
seperti perbukitan. Keadaan jalan itu masih tinggi yaitu sama tinggi dengan tanah halaman
pura Dalem dan sama tinggi dengan halaman perumahan di banjar Penataran, Delodpeken
dan sekitarnya. Keadaan jalan waktu itu berundag berbatu-batu dan bertingkat-tingkat.
Hanya bisa dilalui pejalan kaki atau kuda.

Bilamana ada anggota masyarakat yang mengubur mayat dari desa Buleleng, mereka harus
menyusur jalan yang berundag itu. Dari depan pura Dalem tepat di sebelah pohon asem
kembar, membelok melintasi lereng hutan jati (nepos-nepos) kearah Timurlaut. Setelah
menuruni tebing dan menyeberangi tukad Buleleng kemudian naik lagi dan akhirnya
barulah mencapai kuburan yang berlokasi di Banyuning dimaksud.

Berhubung tukad Buleleng itu seringkali airnya besar dan kadang-kadang juga banjir
mengakibatkan sulitnya masyarakat Buleleng menyeberang ke Banyuning, apalagi dalam
upacara mengubur mayat. Oleh karena itu masyarakat krama Buleleng berusaha agar
kuburan yang di Banyuning itu bisa di pindahkan supaya dekat dengan Pura Dalem yang
sudah ada.

Pekerjaan tersebut kemudian dilaksanakan dan dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik. Jero
Mangku Kenuh dari banjar Penataran sebagai pemangku pura Dalem itu denga rela
menyerahkan tanah untuk kuburan tersebut kepada krama desa Buleleng. Jero Mangku
Kenuh tinggal di tanah miliknya itu di sebelah Selatan Pura Dalem. Tidak dijelaskan apakah
tanah tersebut ditukar atau di beli, apakah diserahkan begitu saja tidak didapat keterang
jelas. Areal kuburan pada permulaannya belum seluas sekarang.
Acara Pamelaspas di tentukan tanggal 7 Oktober 1911 (Caniscara Pon Ugu Tanggal 14
sasih ka pat).

Sehari sebelum upacara resmi pada pagi-pagi buta memotong kerbau 2 ekor, babi 3 ekor.
Acara ini khusus untuk menjamu masyarakat dan krama desa dan banjar dari 4 wilayah
distrik (sekarang kecamatan), berjumlah ratusan orang yaitu termasuk mereka yang dengan
segala tenaga ikut mengerjakan perbaikan jalan. Mereka dijamu sepuas-puasnya. Sore
harinya, Ida Batara masucian ke Mumbul.

Tanggal 7-10-1911. Permulaan Upacara. Nampah kebo yusbrana 1. Kebo anggrek bulan 1,
Dangsil 5 – yang 3 untuk di dalam (jeroan) dan 2 lagi di bencingah (jaba). Yang di halaman
dalam diletakkan di tangga pura, yang di halaman luar (jaba) di letakkan di sebelah
menyebelah candi bentar. Titimahmah kebo yosbrana ditanam dihalaman bencingah pada  
hari Minggu/Redite Wage Wayang (tanggal 8-10-1911. Banten caru ditaruh di perempatan
agung atau yang disebut catus pata terus ke kuburan (setra). Di halaman luar pura ada
sebuah panggung untuk sekar sepasang. Selanjutnya acara persembahan gong dan tartarian.

Gong gede dari desa Bakung, persembahan I Gusti Bagus Cakratanaya Punggawa
Sukasada.   

Gong gede dari banjar Peguyangan Buleleng.
Gong gede dari desa Petandaka, persembahan para sekeha sendiri.
Diadakan upacara Ider Gita. Para pedanda yang ikut muput karya Ida Pedanda Putu
Kamenuh pensiun Kerta dari Griya Sukasada, Ida Pedanda Putu Geria Lid Kerta dari Griya
Sukasada. Malam harinya tari-tarian.
Tanggal 8 dan 9-10-1911 Pakang Raras dari Uma-abian Tabanan, persembahan I Ketut
Sandi dari Banjar Penataran.
Tanggal 9 dan 10-10-1911 Pakang Raras saking Kalopaksa aturan Ida Bagus Surya Griya
Bubunan.
Tanggal 10 dan 11 –10-1911 Tantri saking Buleleng.
Pada tahun 1906, diadakan
pemugaran semua pelinggih
Batara di Pura Dalem.dipimpin oleh
I Gusti Ketut Jelantik, disertai oleh
Klian Desa Adat Buleleng I Ketut
Badung dari Banjar Paketan. Tentu
saja sebelumnya sudah dilakukan
upacara Maturun Hyang
(Matunyang), mohon petunjuk
Batara. Setelah mendapat
panugrahan maka upacara
Pangeruwak di mulai tanggal 8 Juni
1906, yaitu Sukra-Umanis-Merakih
panglong apisan sasih ka pitu.
Pekerjaan tersebut melibatkan
tukang, undagi dan pengayah dari
seluruh distrik di wilayah Buleleng.
Pura Daelm Buleleng
TUGAS YANG MELAWAN HATI.
Sejak menjabat sebagai Punggawa
Buleleng yang diemban sejak 1898,
banyak pengalaman yang dijalani I
Gusti Ketut Jelantik. Tugas yang
diberikan oleh resident Liefrinck
adalah menemani controleur
Schwartz untuk mendata kehidupan
rakyat berkeliling wilayah Buleleng,
kemudian juga ke wilayah Badung,
Tabanan, Bangli dan lainnya. Untuk
mendata jumlah penduduk, sumber
pendapatan, adat istiadat. Perjalanan
di tempuh dengan naik kuda dan
bermalam didesa atau kota yang
semua memakan waktu beberapa
hari. Namun yang terungkap adalah
ketidak cocokan dari beberapa raja
terhadap raja lainnya yang
semuanya dicatat oleh sang
Controleur. Situasi sedemikian
tentunya merupakan peluang bagi
bangsa Belanda dengan menjadi
pendamai.

I Gusti Ketut Jelantik selanjutnya
tidak lagi mau menerima tugas
sebagai pesuruh ikut kehendak
pihak Belanda, apalagi untuk
menekan rakyat Bali. Beliau lebih
baik bekerja untuk kepentingan
rakyat banyak. Selanjutnya I Gusti
Ketut Jelantik mencurahkan segala
perhatiannya pada pembangunan di
Buleleng.

Namun dalam pelaksanaan tugas
berikutnya adalah untuk membujuk
raja Badung untuk membayar ganti
rugi Kapal "Sri Kumala" yang
terdampar di Sanur. Juga
membujuk raja Tabanan agar
menyerah saja kepada Belanda.
Yang akhirnya terjadi tragedi
Puputan Badung. Kemudian Raja
Tabanan bunuh diri di dalam
tahanan. Juga Belanda menugaskan
I Gusti Ketut Jelantik membujuk
para selir dan pengikut raja agar
tidak lagi "mesatya geni" atau acara
bunuh diri dengan ikut membakar
diri dalam upacara pelebon
(pengabenan raja).
I Gusti Ketut Jelantik digerakkan oleh kepentingan masyarakat desa Buleleng. Dengan
demikian beliau mendapatkan alasan tidak bisa mengikuti politik Belanda dalam
mengadakan ekspansi ke wilayah Badung dan Tabanan. Apalagi beliau sangat sedih
karena raja Tabanan dan putranya wafat dengan jalan bunuh diri dalam tahanan Belanda.
I Gusti Ketut Jelantik pernah mengikuti missi Belanda dan sekarang merasa dirinya
sangat kecewa dan menyesal.

Sejak tanggal 6 sampai 8 Juni 1906 situasi sangat tegang. Pasukan Belanda bersenjata
lengkap sudah berbaris sepanjang jalan di tengah kota Singaraja siap naik kapal perang di
pelabuhan Buleleng untuk memblokir pelabuhan wilayah Badung dan Tabanan. Dalam
situasi seperti itu I Gusti Ketut Jelantik terus saja sibuk dengan upacara dalam
pembangunan Pura Dalem bersama Krama Desa.
Pura Dalem Penataran
RELOKASI KUBURAN DESA BULELENG
Pada tahun 1906, diadakan pemugaran semua pelinggih Batara di Pura Dalem.dipimpin
oleh I Gusti Ketut Jelantik, disertai oleh Klian Desa Adat Buleleng I Ketut Badung dari
Banjar Paketan. Tentu saja sebelumnya sudah dilakukan upacara Maturun Hyang
(Matunyang), mohon petunjuk Batara. Setelah mendapat panugrahan maka upacara
Pangeruwak di mulai tanggal 8 Juni 1906, yaitu Sukra-Umanis-Merakih panglong apisan
sasih ka pitu. Pekerjaan tersebut melibatkan tukang, undagi dan pengayah dari seluruh
distrik di wilayah Buleleng.
MEMUGAR PURA DALEM DESA BULELENG.
Membangun Tembok Panyengker di Pamerajan Panji.
Pamerajan peninggalan leluhur Ida Ki Gusti Anglurah Panji Sakti yang terletak di desa Panji
sebelumnya keberadaan pagar batas halamannya kurang terpelihara sehingga pernah
menjadi tempat mengembala ternak. Atas kesadaran itu I Gusti Ketut Jelantik
memprakarsai membuat tembok halaman merajan tersebut dengan tanah yang disebut
tembok papolpolan.
Lagipula waktu itu I Gusti Ketut Jelantik mohon petunjuk dan keselamatan dari leluhur
karena banyak pekerjaan besar yang sedang beliau tangani saat itu.  Setelah selesai lalu
mengadakan upacara pada hari piodalan, 18 Agustus 1909. Ikut hadir dalam upacara
tersebut keluarga besar puri di Buleleng termasuk keluarga puri Sukasada.
Mulai tahun 1910 terjadi gerakan pendidikan untuk rakyat. Di seluruh pelosok tanah air
dibangun sekolah rendah untuk masyarakat. Demikian juga I Gusti Ketut Jelantik, tahun
1914 tergerak hatinya dan membangun sebuah Sekolah Rendah di desa Kalibukbuk dan
sekali gus menyumbangkan tanah pekarangannya. Gurunya yang di kenal antara lain Guru
Made Dira dari Banjar Tengah Singaraja yang kemudian menetap di desa Kalibukbuk.
Namun tahun 1938 sekolah tersebut dipindah ke arah timur 2 km yaitu di Kubu Gembong,
di lokasi Puskesmas sekarang, sedangkan gedung sekolah dipindah lagi ke arah Selatan
Membangun Sekolah di desa Kalibukbuk.