INDEX
HALAMAN - 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 8 - 9 - 10
TULIS KESAN ANDA
TUGAS YANG MELAWAN HATI.
Sejak menjabat sebagai Punggawa
Buleleng yang diemban sejak 1898,
banyak pengalaman yang dijalani I
Gusti Ketut Jelantik. Tugas yang
diberikan oleh resident Liefrinck
adalah menemani controleur
Schwartz untuk mendata kehidupan
rakyat berkeliling wilayah Buleleng,
kemudian juga ke wilayah Badung,
Tabanan, Bangli dan lainnya. Untuk
mendata jumlah penduduk, sumber
pendapatan, adat istiadat.
Perjalanan di tempuh dengan naik
kuda dan bermalam didesa atau
kota yang semua memakan waktu
beberapa hari. Namun yang
terungkap adalah ketidak cocokan
dari beberapa raja terhadap raja
lainnya yang semuanya dicatat oleh
sang Controleur. Situasi
sedemikian tentunya merupakan
peluang bagi bangsa Belanda
dengan menjadi pendamai.

I Gusti Ketut Jelantik selanjutnya
tidak lagi mau menerima tugas
sebagai pesuruh ikut kehendak
pihak Belanda, apalagi untuk
menekan rakyat Bali. Beliau lebih
baik bekerja untuk kepentingan
rakyat banyak. Selanjutnya I Gusti
Ketut Jelantik mencurahkan segala
perhatiannya pada pembangunan
di Buleleng.

Namun dalam pelaksanaan tugas
berikutnya adalah untuk membujuk
raja Badung untuk membayar ganti
rugi Kapal "Sri Kumala" yang
terdampar di Sanur. Juga
membujuk raja Tabanan agar
menyerah saja kepada Belanda.
Yang akhirnya terjadi tragedi
Puputan Badung. Kemudian Raja
Tabanan bunuh diri di dalam
tahanan. Juga Belanda
menugaskan I Gusti Ketut Jelantik
membujuk para selir dan pengikut
raja agar tidak lagi "mesatya geni"
atau bunuh diri dengan ikut
membakar diri dalam upacara
pelebon (pengabenan raja).
Walaupun I Gusti Ketut Jelantik sebagai punggawa dan harus tinggal di kota, pikirannya
selalu berada di desa Kalibukbuk. Malahan beliau bermaksud menjadikan Kalibukbuk sebagai
desa yang lengkap dengan kayangan desa, pemerintahan serta wewidangan desa.

Kebetulan beliau memiliki sebidang tanah yang berisi pohon buah-buahan terletak dI Banjar
Penataran kota Singaraja. Tanah ini, yang berlokasi di sebelah utara jalan, sekarang bernama
Jalan Veteran diambil oleh pemerintah karena diperlukan untuk perluasan areal perkantoran.
I Gusti Ketut Jelantik minta kepada pemerintah agar tanah tersebut ditukar saja dengan tanah
pemerintah yang ada di Kalibukbuk. Maka pada tahun 1902 oleh pemerintah beliau diberikan
tanah tegalan di desa Kalibukbuk itu sebagai tukaran. Tanah itu terletak memanjang di
sebelah Utara dan Selatan memotong jalan yang baru di sebelah Timur pasar Kalibukbuk
sekarang. Karena makin banyak penduduk yang datang menetap di desa itu, maka perlu
diangkat kelian atau kepala desa. Pada hari yang ditentukan diangkatlah seorang kelian yang
bernama I Wayan Dresna berasal dari desa Basangalas Karangasem yang sudah lama
menetap di desa Kalibukbuk. Untuk tempat tinggal kelian desa, istilah dulu kelian Teruna, I
Gusti Ketut Jelantik menyerahkan sebagian tanah tukaran itu kepada keluarga yang diangkat
sebagai  kelian desa. Tanah itu sekarang dikenal sebagai tanah pekaranga desa Kalibukbuk.
Kemudian seorang janda bernama Meme Beng dengan anak antaranya I Nengah Kertiana
diberikan tempat tinggal di pekarangan desa, juga keluarga Pande bernama Pan Dangin itu
juga dengan pesan agar kemudian hari mereka ikut membangun desa Kalibukbuk
BERKUTAT MEMBANGUN DESA
Membangun Jalan Raya Singaraja-Kalibukbuk.
I Gusti Ketut Jelantik mulai merencanakan membuat jalan lintas Utara, memanjang dari
Singaraja sampai ke desa Kalibukbuk.
Rencana tersebut mendapat dukungan dari masyarakat waktu itu. Ratusan orang setiap
hari turun “ngayah”, membongkar dan menimbun tanah untuk jalan muali dari ujung
Tukad Banyumala lurus membelah benatngan sawah ke desa Kalibukbuk yang sekarang
dikenal sebagai jalan Singaraja - Seririt. Panjang jalan tersebut sekitar 8000 meter.
Di palemahan desa Pemaron banyak pohon bambu dan berbagai jenis pohon kayu yang
besar-besar. Pohon-pohon ini ditebang untuk keperluan jalan baru tersebut. Tebangan kayu
yang banyak itu kemudian dibagi-bagikan di antara para pengayah dan dibawa pulang
untuk dibuat perkakas rumah dan alat-alat pertanian. Perbuatan ini kemudian ternyata
menimbulkan suatu akibat yang kurang baik. Para pengayah banyak yang jatuh sakit yang
tidak jelas jenis penyakitnya. Termasuk I Gusti Ketut Jelantik juga terkena penyakit yang
aneh. Setelah ditanyakan kepada seorang balian, ternyata beliau disalahkan atau kesisipang
oleh “sang menduwe jagat” wilayah uatara desa Pemaron itu. Kesalahan itu disebut juga
“kepongor”. Setelah mempersembahkan upacara guru piduka dan mengembalikan semua
kayu-kayu baik yang masih gelondongan maupun yang sudah berupa perabotan
ketempatnya semula, barulah para pengayah berangsur sembuh. Demikian pula I Gusti
Ketut Jelantik kembali sembuh.
Singkat cerita, “jalan baru” yang dibuat itu akhirnya selesai, lalu dinamai “Margi Anyar”,
dapat tembus sampai ke desa Kalibukbuk. Setelah itu jalan itu selesai, kepada anak-anak
murid sekolah di ajarkan, bahwa dari Singaraja mengarah ke Barat, desa yang pertama
dijumpai adalah Kalibukbuk. Sedangkan waktu dahulu sebelum jalan ini dibuat, dikatakan
bahwa dari Singaraja mengarah ke Barat desa yang dijumpai adalah Bangkang, Galiran,
Pemaron, Tukadmungga, Anturan, Celukbuluh, Banyualit dan barulah akhirnya sampai di
Kalibukbuk. Jalan yang lama disebut Margi Lawas atau Rurung Buwuk.
MEMBANGUN PURI
I Gusti Ketut Jelantik pada tahun 1903, tepatnya tanggal 8 April membeli tegal disebelah
Utara jalan baru atau margi anyar dari seorang bernama Akib bin Hadji Djafar asal Kampung
Bugis. Di tanah tegal itu beliau mendirikan puri. Bentuk puri pada mulanya masih darurat,
karena puri lama yang di dekat Pura Sari masih baik. Puri ini kemudian pada tahun 1908
mulai dipugar. Membangunnya memakan waktu cukup lama karena sulitnya kesibukan
yang menghambat. Akhirnya diselesaikan pada tahun 1911.
I Gusti Ketut Jelantik menghadapi tugas yang pelik, karena harus menjalankan tugas ikut
ke daerah Badung dengan kapal uap ( dulu kapal api) bersama pembesar Belanda.

Masalah Kapal “Sri Komala” di pantai Sanur, Badung.















Pada bulan Mei tahun 1904 ada kapal “Sri Komala” milik seorang pedagang terdampar di
Sanur yang menjadi permasalahan besar. I Gusti Ketut Jelantik naik kapal “Zwaleuw” dari
pelabuhan Buleleng ke Badung untuk mengurus pertikaian antara pemilik kapal bernama
Kwee Tik Tjiang yang dimenangkan pengadilan mengalahkan Raja Badung.
Dalam pelaksanaan tugas berikutnya adalah untuk membujuk raja Badung untuk membayar
ganti rugi Kapal "Sri Kumala" yang terdampar di Sanur. Juga membujuk raja Tabanan agar
menyerah saja kepada Belanda. Yang akhirnya terjadi tragedi Puputan Badung. Kemudian
Raja Tabanan bunuh diri di dalam tahanan. Juga Belanda menugaskan I Gusti Ketut
Jelantik membujuk para selir dan pengikut raja agar tidak lagi "mesatya geni" atau bunuh
diri dengan ikut membakar diri dalam upacara pelebon (pengabenan raja).
I Gusti Ketut Jelantik untuk selanjutnya tidak lagi mau menerima tugas sebagai pesuruh
sesusai kehendak pihak Belanda, apalagi untuk mnekan masyarakat Bali. Beliau merasa jauh
lebih baik bekerja untuk kepentingan rakyat banyak. Selanjutnya I Gusti Ketut Jelantik
mencurahkan segala perhatianna pada pembangunan Buleleng.
TUGAS YANG MELAWAN HATI.
Sejak menjabat sebagai Punggawa Buleleng yang diemban sejak 1898, banyak pengalaman
yang dijalani I Gusti Ketut Jelantik. Tugas yang diberikan oleh resident Liefrinck adalah
menemani controleur Schwartz untuk mendata kehidupan rakyat berkeliling wilayah
Buleleng, kemudian juga ke wilayah Badung, Tabanan, Bangli dan lainnya. Untuk mendata
jumlah penduduk, sumber pendapatan, adat istiadat. Perjalanan di tempuh dengan naik
kuda dan bermalam didesa atau kota yang semua memakan waktu beberapa hari. Namun
yang terungkap adalah ketidak cocokan dari beberapa raja terhadap raja lainnya yang
semuanya dicatat oleh sang Controleur.
Waktu itu kerajaan Tabanan, Badung dan Klungkung belum dikuasai Belanda.