R I W A Y A T   H I D U P
( Penulis)
Lahir di Singaraja pada tanggal 11 Pebruari 1908. Bersekolah Hollandsch Inlandsche
School di Singaraja dan melanjutkan ke M.U.L.O. Batavia, sekarang Jakarta.
Belajar bahasa Inggeris dari seorang guru Inggeris di Surabaya selama dua tahun lebih.
Tahun 1925 ibu meninggal dunia. Saya berdagang hasil bumi.
Tahun 1930 menjadi sekretaris ayah dan dipindahkan ke Cakranegaia (Lombok) di mana
datuk saya pernah menjabat pepatih di pulau itu waktu zaman Belanda.
Tahun 1935 membuka sekolah Rendah Belanda di Puri Kanginan (puri Timur) sebab
saya ada berpuri di sebelah barat pasar Singaraja, diajar oleh tiga pemuda yang belum
mendapat angkatan Pemerintah bernama 1 Made Mendra, I Swara dan 1 Ketut Djingga.  
      .
Tahun itu juga saya mengajar bahasa Inggeris di sekolah "Partiwi Putra School", dibuka
oleh seorang dari Madura bernama sdr. Kontjosungkono yang menjadi sarjana muda
Rechts Hoogeschool. Kalau saya tidak keliru sekolah tinggi itu sekarang menjadi
Universitas Indonesia. Waktu itu saya amat populer karena saya sangat suka akan
komidi Stambul dengan bermain musiknya.
Insaf akan diri kalau terus hidup secara ini akan menjadi rusak lalu saya berpindah 10
kilometer kebarat, di kebun kelapa milik ayah di tepi pantai, yang kini kami beri nama
Lovina. Waktu itulah surat kabar banyak menulis tentang saya keluar dari puri (istana)
untuk hidup di antara rakyat biasa.
Orang-orang Belanda tidak suka akan diri saya, meskipun ayah menjadi Zelf¬bestuurder
daerah itu, sebab saya tidak suka bekerja pada Pemerintah Belanda. Sesungguhnya satu
haripun saya belum pernah bekerja di bawah Gubernemen Belanda dan sama sekali
belum pernah menerima gaji dari mereka. Seorang Belanda yang berpangkat pernah
berkata bahwa saya mau meracun orang tua dengan maksud segera saya menerima
waris dan mendapat pangkat. Terbitlah amarah saya dan sesudah saya menerangkan
bahwa kehendak itu sama sekali tidak masuk di pikiran saya, maka saya terpaksa
menulis sebuah roman berjudul: "Ni Rawit, Ceti dan Penjual orang". Sesungguhnya
raja-raja waktu itu belum menyadari keadaan mereka yang benar, karena pelajaran Dr
Soetomo yang beliau berikan kepada saya, waktu beliau berkunjung ke Singaraja.
Bagi merangsang pemuda-pemudi memperdalam pengetahuan mereka tentang sejarah
Bali Kuna dan Indonesia umumnya, saya harus mengembara empat bulan. lamanya di
Batur, gunung api dan danaunya, mempelajari kehidupan mereka sehari-harinya lalu
menulis sebuah buku yang bernama:"I Swasta, Setahun di Bedahulu".
Pada waktu itu saya menulis ceritera-ceritera pendek di majalah Terang Bulan, asuhan
sdr. Imam Supardidi Surabaya.
Ke Wina (Austria) untuk melanjutkan bahasa Sansekerta yang telah di ajar oleh Dr. R.
Goris. Di Singapura mata saya berasa sakit, dan saya harus kembali, ke Indonesia
berobat. Di dalam keadaan demikian saya memaksakan diri untuk menulis sebuah roman
berjudul "Ni Sukreni, gadis Bali", dengan menyatakan bahwa di Bali orang-orang Kristen
tidak berperangai raksasa sebagai pendapat orang-orang Belanda yang anti-Kristen Bali.
Waktu itu Pemerintah Belanda kawatir kalau ada pergolakan di antaranya.
Saya juga mengarang poesy yang diterbitkannya oleh sdr. Takdir Alisjahbana didalam
majalahnya poedjangga Baru di Jakarta. Sejak itu orang mengatakan bahwa saya
memasuki gelanggang itu, diantaranya sa'ir "Ni Poetri". Dalam pada itu mata kanan saya
menjadi buta sama sekali!
Tahun 1937 orang-orang Bali mendirikan sebuah perkumpulan bernama Bali Dharma
Laksana (boleh di salin: Bali's obligation in action) dan mendirikan majalah Djatayu serta
mengangkat saya menjadi hoofdredacteurnya.
Tahun 1939 Sumatra meminta karangan, saya berikan tulisan saya berjudul:, "Dewi
Karuna", diterbitkan oleh , Boekhandel Tjerdas di Medan.
Tahun 1940 saya membeli tanah kurus 12 H.A. dan ditanami pohon jeruk untuk
memberikan contoh penduduk desa suka menirunya, sebab isi desa sangat
miskin-miskinnya, dengan, niat supaya hidup mereka lebih baik.
Tahun 1942 Jepang menduduki pulau Bali. Saya pindah ke kebun jeruk dengan
membawa beberapa buku-buku, di antaranya The Impact of the Western world yang
amat perlu, dan yang lain-lain tentang ekonomi, budaya, sosial dan pemerintahan.
Beberapa lama kemudiannya datanglah militer Jepang menangkap saya, dan lanjut
membawa saya ke markas mereka, sebab tanda bukti sjah tidak mereka adakan, maka
saya dilepaskan, tetapi terus dimatai-matai karena dianggap anti-Jepang. Pada pendapat
saya Belanda dan Jepang sama saja.
Tahun 1944 ayah yang tua meninggal dunia. Sebagai anak tertua saya harus
menggantikannya menjadi raja di Buleleng, Bali Utara. Mula-mula saya tidak mau, sebab
adik yang bersekolah di Leiden (Holland) mesti mengambil tempat itu. Oleh desakan
rakyat Buleleng, dan permintaan sahabat kenalan, lebih-lebih karena desakan
Pemerintahan Pendudukan Jepang yang keras itu, saya terpaksa merubah sikap, mau
mengganti ayah menjadi raja (Sjucho). Apa lagi mereka menganggap saya anti mereka.
Beberapa kali Bung Karno membuat pidato di muka umum di Singaraja dan berceramah
kepada kami.
Tahun 1945 Indonesia Merdeka! Saya mengusahakan supaya bisa terlepas dari
pekerjaan sekarang, tetapi tidak dapat.
Tahun 1946 saya dipakai pramukha raja-raja oleh semua raja-raja di Bali, yang
memberatkan pekerjaan saya: Tahun itu juga saya dibaptis (di doop) oleh Pdt. A.F.
Ambesa, Pdt. J. Kantohe dan sdr. Trimurti di desa Seraya di mana kebun jeruk kami
terletak, dan mulai hari itu saya menjadi Kristen.
Tahun 1947 saya minta berhenti menjadi raja Buleleng karena saya menjadi Kristen dan
tidak mencocoki merajai orang Bali. Sebagai raja maka saya otomatis menjadi anggauta
parlemen Negara Timur.
Tahun 1948 saya berhenti menjadi anggauta Parlemen NIT kembali ke kebun jeruk, dan
membeli dari Pedanda Kemenuh secutak tanah diatas tanah itu saya membuka S. M. P.
dan Nengah Melaya sebagai gurunya.
Tahun itu juga saya sendiri dengan modal sendiri membuka bioskoop Maya (Bayangan)
di sebelahnya.
Tanggal 15 Pebruari 1950 saya terpilih menjadi anggauta D.P.R.R.IS. di Jakarta. Tahun
itu juga saya menjadi anggota D.P.R. Republik Indonesia (Kesatuan). Di situ saya
bertemu dengan Yth. Bapak Dr Ir. Soekarno - ibunya seorang wanita Bali dari Singaraja
- yang menjadi kepala Negara. Di Jakarta saya bertemu dengan sahabat lama, sebagai
Yth. Ki Hajar Dewantoro, Soedjono SH., Pamuncak, Siregar, dan yang lain-lain, dan
sudah tentu Dr. Sjahrir dan sebagainya.
Tahun 1952 saya serahkan Sekolah Menengah Pertama kepada Bapak Wayan Roema
sebagai kepala Yayasan Perguruan Bhakti Yasa, di Singaraja.,
Tahun 1953 saya menulis banyak di majalah Bhakti dan harian.Marhaen di Denpasar.
Tahun 1955 saya menulis roman yang berjudul "I Made Widiadi", Kembali Kepada
Tuhan, sebab keadaan rasanya - menurut pendapat saya tidak menurut se bagaimana
patutnya. Untuk mengarang buku itu Bapak Gubernur (Sunda Kecil) memberikan saya
prioritas mesin terbang untuk pergi ke Kupang, dan menjelajah pulau Timor sampai
dekat-dekat Dilly, jajahan Portugis. Di situ saya maklum bahwa kepala-kepala mereka
yang gemar politik tidak sedikit yang menyeweleng ke kiri, yang saya paparkan dengan
agak romantis di dalam buku.
Sejak 1946 sampai dengan tahun 1955 sudah tiga kali mengunjungi Eropah, dua kali ke
Mesir, sekali ke lrak, sekali ke Pakistan, tiga ke India – empat bulan di Martandam
mempelajari kerajinan tangan diberi bilik oleh Pemerintah India - ke Thailand, Malaysia
dan Singapura.
Saya menulis buku-buku itu kalau ada alasan. Kalau tidak ada sebab susah saya akan
mengarang.
Saya bukan Pengarang.
Buku-buku saya belum ada yang disalin ke dalam bahasa asing. Itu sedang
direncanakan.
Belum pernah saya ikut serta dalam seminar karang-mengarang. Dalam perlumbaan
atau sayembara mengarangpun saya tidak pernah ikut, kecuali sebelum perang di Balai
Pustaka yang berjudul “I Putra dan I Gede Arka, yang tidak diterima sebab kepanjangan
dan/atau isinya yang tidak sesuai. Tahun 1974 seorang anak yang mendirikan hotel
Tasik  Madu, setelah hotel pertama yang bernama Lovina (youth hostel) amberuk. Di
situ saya suka dengan gembira menerima sahabat kenalan yang rela mengunjungi saya.
Tahun 1975 karangan saya yang bernama Ni Rawit, Ceti dan Penjual orang yang
diterbitkan ulang oleh Lembaga Seniman Indonesia Bali kedua kalinya, akan diterbitkan
ulang oleh Bapak Yth. Ajip Rosidi di Jakakarta, sebagai karangan saya 1 Made Widiadi
oleh Penerbit Satya Wacana dibawah asuhan Sdr. Drs. Percaya di Semarang waktu ini.
Anak-anak saya ada di Bali, di Jawa beberapa orang, seorang di Universitas
Missouri (USA) dan seorang dokter internist di Berlin Barat.
Nama Anda:
Alamat :
E-mail:
Komentar:
Silahkan sampaikan kesan Anda
You need Java to see this applet.
A. A. Nyoman Panji Tisna
Mr.A.A.KetutJelantik
Catatan:

Setelah Anak Agung  Panji
Tisna undur diri, diganti oleh
Mr. Anak Agung Ketut
Jelantik sebagai raja Buleleng.

Baca:
1.Buku Bali Berjuang karangan
Nyoman S Pendit.
2.The Dark Side of Paradise
by Geoffrey Robinson
Buku I. MADE WIDIADI
karangan A.A.Panji Tisna
Riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh A A Panji Tisna seperti pada
halaman terakhir buku I Made Widiadi (Kembali Kepada Tuhan).
Panji Tisna's Life and Thought