Desa Kalibukbuk merupakan salah satu pintu
masuknya Ciwa-Buddha ke Bali
Dengan selesainya bangunan candi bersejarah itu yang sudah lama
ditunggu, maka masyarakat langsung menyambutnya dengan antusias.
Mereka menyatakan sukur kehadapan Ida Sangyang Parama Wisesa
dengan membuat upacara pecaruan terhadap lingkungan dan upacara
pengurip-urip terhadap bangunan yang baru selesai itu. Upacara seperti
itu memang telah menjadi kebiasaan masyarakat Bali yang memeluk
agama Hindu. Upacara dilakukan hari berikutnya, yaitu tanggal 17 Januari
2009 bertepatan dengan hari Tumpek Landep, hari yang baik untuk
melaksanakan upacara Dewa Yadnya.

Walapun hari itu adalah hari Tumpek Landep yang sibuk dengan upacara
seperti piodalan di Pura dan di Sanggah / Pamerajan namun upacara di
Candi Buddha cukup meriah walau dalam keserdahaan.

Dalam lingkup desa hadir Bapak Perbekel Desa Kalibukbuk dengan para
Kelian Banjar/ Dusun, Kalibukbuk, Banyualit dan Celukbuluh. Demikian
juga para Kelian Desa Pakraman, Banyualit dan Kalibukbuk. Hadir juga
para Pemangku Kayangan Desa tidak ketinggalan para Pemangku Dadia
dan masyarakat yang mengetahui adanya upacara tersebut.

Yang istimewa adalah Bapak Drs I Made Suantra, Kepala Balai
Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali-NTB-NTT dalam kesibukannya
sempat hadir beserta beberapa orang Staf. Beliau juga sempat
memberikan pencerahan perihal makna dari candi peninggalan sejarah
dan manfaatnya bagi masyarakat
KALIBUKBUK
Candi Buddha di Kalibukbuk adalah peninggalan pada abad antara ke 9 /
10. Pada abad itu telah berkembang ajaran Buddha di Jawa Tengah
pada jaman Mataram kuno dan pada jaman raja Empu Sindok bergeser
ke Jawa Timur. Empu Sindok  beragama Ciwa, namun agama Buddha
Tantrayana juga diberikan berkembang. Seni budaya tumbuh dengan
suburnya. Empu Sindok mempunyai cicit perempuan bernama
Mahendradatta pergi ke Bali, kawin dengan raja Bali yang bernama
Warmadewa Udayana. Mahendradatta bergelar Gunapriyadharmapatni  
yang rupanya lebih berpengaruh dalam bidang kerohian daripada sang
raja Udayana yang penganut Buddha Mahayana. Dari pasangan ini
melahirkan Erlangga yang kemudian menjadi raja di Kediri Jawa Timur.

Di Pulau Bali pada jaman Bali Kuna terdapat sekitar sembilan sekte
keagamaan, yaitu Bhairawa, Pasupata, Siwa Sidanta, Waisnawa, Budha,
Brahma, Resi, Sora dan Ganapatya. Terjadilah persaingan yang sangat
tajam di antara mereka. Masing-masing sekte menyatakan bahwa dewa
pujaan mereka sendiri (istadewata) adalah yang paling utama sedangkan
yang lain dianggap lebih rendah. Jadi, dari bidang keagamaan kondisi
masyarakat Bali jaman itu terancam konflik.

Walaupun tidak mengganggu jalannya pemerintahan, namun kondisi
seperti itu menjadi pengamatan Sri Gunapriyadharmapatni beserta raja
Udayana, sehingga perlu mendatangkan Empu Kuturan dari Jawa untuk
diangkat sebagai Senapati namun beliau menolak. Tetapi Empu Kuturan
kemudian berhasil menjadi Ketua Majelis "Pakira-kiran I Jro Makabehan".  
Empu Kuturan yang sebagai penganut ajaran Buddha sangat
memperhatikan kondisi Bali pada waktu itu. Maka dipandang perlu
menghimpun para Pandita asal dari Jawa. Mereka adalah Empu Kuturan,
Empu Smeru, Empu Gana, Empu Gni Jaya dan Empu Beradah. Mereka
datang ke Bali, kecuali Empu Beradah yang tetap berada di Jawa.
Mereka membuat pertemuan besar di Pura Samuan Tiga.

".........nguni duk pamadegan Cri Gunapriyadharmapatni Udayana
Warmadewa, hana pasamuan agung Çiwa Budha kalawan Bali Aga, ya
hetunya hana desa pakraman mwang kahyangan tiga maka kraman
ikang desa para desa Bali Aga".

Artinya:
"....dahulu kala pada saat bertahtanya Cri Gunapriyadbarmapatni dan
suaminya Udayana Warmadewa, ada musyawarah besar Çiwa Budha
dan Bali Aga itulah asal mulanya ada desa pekraman dan Kahyangan
Tiga sebagai tatanan kehidupan dan masing-masing desa Bali Aga.

Untuk menyatukan seluruh konsep yang berkembang dalam masing-
masing sekte, maka Panca Pandita di bawah pimpinan Empu Kuturan
memperkenalkan konsep Tri Murti yang sejak itu menjadi pegangan
hidup masyarakat di Bali.

"
Ndan len kita Buddha rupa Ciwa pati urip ikang tri mandala,
Sang sangkan paraning sarat ganal alit kita ala ayu kojaring aji.
Upetti stitti lilaning dadi kita katramanani paramarta Sogata.

Artinya:
"Tidak lain Engkau Buddha yang berupa Ciwa, berkuasa menghidup-
matikan sekalian makhluk penghuni tiga alam semesta dan Engkaulah
yang menjadi pokok asal sekalian kehidupan besar kecil di dunia, serta
yang menciptakan adanya baik dan buruk, demikian ajaran agama yang
berasaskan nilai-nilai kelahiran dan kematian yang diciptakan tiada lain
oleh Engkau Ciwa-Buddha".

Pemahaman Ciwa-Buddha dan Tri Murti dijadikan dasar falsafah
keagamaan di Bali. Konsep ini diterapkan di desa pakraman di Bali dalam
bentuk Kahyangan Tiga. Di setiap keluarga didirikan bentuk Sanggah
Kemulan.

Juga disebutkan Sanghyang Kamahayanikan merupakan inti ajaran Ciwa
Buddha yang diterapkan dan sejak itu sampai sekarang menjadi dasar
peri kehidupan beragama di Bali. Perkembangan kebudayaan bersumber
dari falsafah dan ajaran Empu Kuturan.

                                 Disarikan dari berbagai sumber.

Kami sangat mengharapkan saran dan kritik untuk perbaikan bilamana terdapat
kesalahan ataupun kejanggalan dalam tulisan ini
Desa Kalibukbuk merupakan salah satu
pintu masuk Ciwa-Buddha ke Bali
Suasana Upacara pengurip-urip
Candi Buddha Kalibukbuk yang telah di
rekonstruksi dan selesai pertengahan
Januari 2009.
Pada jaman Empu Sindok di Jawa
telah berkembang ajaran agama
Buddha Tantrayana atau Ciwa-Buddha
yang berintikan ajaran yang terdapat
dalam Kitab Sanghyang
Kamahayanikan.

Ajaran Sanghyang Kamahayanikan
dibawa oleh Mahendradatta /
Gunapriyadharmapatni ke Bali waktu
menjadi istri Udayana Warmadewa,
diterapkan oleh Empu Kuturan dengan
falsafal Trimurti.

Sanghyang Kamahyanikan hanya bisa
diajarkan pada kalangan terbatas,
karena sangat sulit difahami.
Ajarannya pada tingkat Jnana Marga
mengenai pelepasan dari beban dan
menuju kamoksan.

Konon, Sanghyang Kamahayanikan
akan muncul bila keadaan di bumi  
telah dekat pada Jaman Kali.....
Bangunan peninggalan sejarah berupa Candi Buddha yang dikenal dengan Situs Kalibukbuk telah selesai dipugar
oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Bali pada tanggal 16 Januari 2009. Sejak ditemukannya reruntuhan
situs di tahun 1994, masyarakat dengan antusias menunggu selama hampir 15 tahun. Sekarang ini dengan jelas
telah dapat dilihat bentuknya yang mengundang pesona.
Selain bentuk bangunan yang menakjubkan secara kasat mata, ternyata situs Kalibukbuk ini mengandung muatan
sejarah yang lumayan menarik. Betapa tidak. Karena bangunan tersebut berasal dari abad ke
IX / X.
Nama:
Email:
Alamat rumah:
Komentar cb:
Candi Sewu abad ke VIII
berdiri di kompleks Candi Prambanan
Kitab "Sanghyang Kamahayanikan"
yang telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia